April 23, 2015

Liburan di Pekanbaru & Batusangkar


Assalammu'alaikum wr wb.

Sebelumnya saya posting soal trip ke Singapore yang hanya berdua saja. Nah, trip kali ini lebih seru lagi karena bawa Naya dan sekeluarga lengkap. Dan perjalanan kemarin menjadi perjalanan pertama Naya dan saya pulang kampuuuuung. Akhirnya setelah tertunda selama lebih dari 2 tahun, akhirnya saya menjejakkan di Batusangkar, kampung asal suami. *terharu* Dan berarti pertama kalinya juga Naya pulang kampung, yippiiii... *dancing* Momennya adalah adik ipar yang mendapatkan jodoh orang sekampung, jadi resepsi juga diadakan di sana. Agendanya 12-15 Februari 2015 kami ada di Pekanbaru untuk akad nikah dan resepsi di kediaman keluarga mempelai wanita. Kemudian tanggal 15-23 Februari 2015 via jalan darat kami akan menuju Batusangkar untuk menggelar acara resepsi di kampung.


Persiapan

Karena berpergian pertama kali sama Naya, kami memilih naik pesawat Garuda Indonesia. Supaya lebih nyaman buat si kecil. Dan sengaja saya cari tiket dari jauh-jauh hari. Dan terbukti jauuuh lebih murah. Kemarin bertiga sama Naya totalnya kurang lebih Rp 3.000.000 untuk tiket PP. Berhubung naya masih di bawah 2 tahun jadi tiketnya ngga bayar full seperti dewasa. Alhamdulillah. Untuk akomodasi hotel dan penginapan sudah diatur sama mama papa, jadi saya ngga perlu siapkan apa-apa.

Kalo kemarin-kemarin pergi hanya bawa diri sendiri, nah sekarang bawa si ucul ni. Ribet ngga? Udah pastiiiii, hahaha. Bayangkan 12 hari ke luar kota untuk pertama kalinya. Ditambah saya belum punya pengalaman pulang kampung dan dalam waktu selama itu pula. Maklum, saya orang Betawi yang kampungnya naik angkot ongkos 4000 perak udah sampe, hahaha. So it was new yet excited experience for me, for us.

Ikut-ikutan packing plus pilih sendiri bonekanya untuk dibawa

Setelah berpikir apa aja yang mau dibawa, akhirnya mencoba ngga terlalu banyak bawa baju karena pasti kita akan cuci mencuci baju di sana. Beberapa hal yang paling penting yang dibawa antara lain :
- 1 bag diapers Naya, dan sisanya kita putuskan beli di kota singgah pertama, yaitu Pekanbaru.
- 3 set baju pesta karena akan ada 3 acara utama, akad nikah, resepsi di Pekanbaru dan di Batusangkar
- 6 set baju main/baju bobo
- 3 set baju jalan
- 6 set daleman
- Beberapa lembar Nori/rumput laut -- ini kalo Naya susah makan kalo disuapin, jadi dia maunya makan sendiri
- pasta kering -- in case si ucul bosan makan nasi
- keju (cube cheese)
- toiletries
- tissue basah & kering
- handuk

Intinya dibagi ke dalam 2 siklus @ 6 hari. Jadi siklus 6 hari kedua, baju sudah dicuci dan naya pakai baju yang sama seperti siklus pertama, hehehe. Soal makanan naya akan kita cari dan masak langsung di sana aja. Waktu berangkatnya yang paling penting adalah bawa cemilan naya, semacam buah-buahan, jagung rebus, dan roti. Kebetulan waktu itu berangkatnya subuh, jadi naya masih bobo kita udah angkut ke bandara, hehehe. Sarapannya pun ikut sarapan mama papa yang dibeli di Starbucks. :)) Mulai agak loose deh soal makanan ucul.


Pekanbaru : 12-15 Februari 2015

Kami sempat dag dig dug bagaimana nanti Naya saat di pesawat ya. Alhamdulillah naya masih ASI, jadi saat take off dan landing Naya saya susui. Dan amaaan.. Jakarta-Pekanbaru setelah nenen naya langsung bobo sebentar. Pas bangun ikutan nonton Doraemon sambil makan buah. Anak mama papa pintaaaar.. *kecuuupcelemotan*

Menunggu boarding. Bacaannya berat amatan yaaa.. 

12-15 Februari 2015 kami menghabiskan waktu di Pekanbaru untuk beberapa acara. Kami menginap di Grand Tjokro. Cukup nyaman hotelnya. Hari pertama di Pekanbaru belum ada agenda khusus. Setelah istirahat barulah berkumpul sama keluarga besar dari papa mertua. Rameee, seruuu.. Naya seperti biasa butuh penyesuaian dulu kalo di lingkungan baru. Setelah akrab dan mengenal semua, baru deh dia main lebih lepas. Karena kedua mempelai dari minang, jadilah digelar malam bainai ini. Di malam bainai ini kedua calon mempelai akan dipakaikan tumbukan halus pacar merah. Pada calon pengantin wanita, daun inai ini dilekatkan ke kuku-kuku jarinya, sehingga setelah semalaman akan meninggalkan bekas warna merah yang cantik. Di malam ini pula seluruh keluarga berkumpul dan berkesempatan memberi restu sebelum esok harinya pernikahan dilangsungkan. Klik link artikel berikut deh soal penjelasan malam bainai.





Di tanggal 13 Februari 2015, barulah dilangsungkan akad nikah. Ini kali pertama harus membawa Naya di acara pernikahan yang mengharuskan kami bersiap dari pagi-pagi sekali. Lumayan riweuh yaa, karena kami lebih memilih menyesuaikan jam bangun tidur Naya, lalu menyiapkan Naya dengan kondisi saya sudah harus rapi jali. Dan baju mamanya ini kan pasti panjang-panjang yaaa, jadi dia kan suka main air yaaa, jadi ya kudu rela harus jadi agak basah, hahaha. Well, di liburan ini juga kami jadi lebih kompromi soal makanan Naya. Apalagi anak ini lagi super picky soal makanan. Jadilah di pagi itu kami jadi tau naya suka makan cornflake dicampur susu. Plus ada omelette penyelamat, wohooo.. Oke deh bye bye nasi. :))

Naya ootd untuk akad nikah
wefie dengan CPP
It's us.
Ijab Kabul
Kedua Mempelai

Our family
Bersama mama, mak uwo dan kakak sepupu

Saat akad nikahnya saya harus puas duduk di bagian belakang karena mencegah Naya yang ngga betah duduk di depan dan pasti doi akan ngoceh-ngoceh. Yaaa namanya bayiii, jadinya saat ijab kabul saya sibuk entertain si bos kecil supaya tetap anteng, hahahaha. Tiap  Setelah acara kami ngga mampir kemana-mana karena sudah lelaaah, pegal ya boook. Jadilah kita tepar tidur bertigaan sesampainya di hotel, hahaha. Malamnya sempat mampir ke rumah tante, adik dari mama. Dan waktu mampir makan malam, kita singgah ke RM Sederhana. Dan karena ayam pop adalah menu satu-satunya yang ngga pedas dan minim garam *semoga :')* akhirnya kami pilihkan menu ayam pop untuk naya. Daaaaan ternyata anak ucul ini sukaaaaa banget, habis 2 potong saja. Keliatan ya anak turunan minangnya. :)) Maunya makan sendiri ngga mau disuapin. Nenek kakeknya takjub dan sampai sekarang pasti kalo mampir ke RM Sederhana selalu membelikan ayam pop buat cucunya ini, hohoho.

Resepsi berlangsung di esok harinya. Kedua mempelai tampak apik menggunakan busana pengantin tradisional minang. Kalo dulu resepsi saya dan suami temanya pink-silver, kalo adik kami ini temanya merah gold. Baju saya juga saya samakan dengan tema merahnya, hehehe. Kalo naya pakai baju yang sudah ada aja. Lagi-lagi mak iriiit.. :))




Karena memang di Pekanbaru sudah padat merayap acara keluarga, jadilah kami ngga sempat explore kemana-mana. Jadi silaturahim aja ke rumah beberapa kakak sepupu dan tante. Daaaaan, tiap hari saya makan duren. Oh yeaaah, me love it. *joget* 

Minggu, 15 Februari 2015 kami akan melanjutkan perjalanan ke Batusangkar via jalur darat. Sempat mampir sebentar ke pasar oleh-oleh. Sayangnya kemarin agak terburu-buru jadi ngga sempat beli apa-apa. Padahal banyak banget bros-bros cantik yang harganya miring. Kalo kata bebong, biar ada alasan balik lagi, hehehe. Sekitar jam 10.30 kami meninggalkan Pekanbaru. Karena membawa si bayi, sengaja jalannya agak santai. Alhamdulillah naya pintar. Setelah nenen dia langsung bobo, pas bangun pun cukup diberi cemilan dan dia sudah happy, hihihi. Ada kalanya si saya harus mengeluarkan senjata pamungkas yang biasanya dihindari, yaitu nonton video dari smartphone. Tapi demi doi ngga bosan dan ngga rewel deh yaaa.. Secara perjalanan Pekanbaru-Batusangkar memakan waktu 6 jam.

Berhenti hanya untuk makan dan shalat. Kami ngga turun di Kelok 9, ya ngelewatin aja udah kagum apalagi kalo berhenti ya. Karena membawa naya dan agak riskan berhenti di pinggir jalan, takut ngga safety buat si kecil. Jadi cukup puas foto-foto dari dalam mobil aja. Alhamdulillah sekitar jam 4.30 kami sampai Batusangkar dengan sehat dan selamat. Subhanallah walhamdulillah, saya dan naya akhirnya menjejakkan kaki untuk pertama kali di kampung. Ahaaay punya kampung sekarang anak betawi ini, hahahaha.

salah satu sudut di Kelok 9

Batusangkar : 15-23 Februari 2015

Kesan pertama, kampung itu sejuk dan pemandangannya hijau memanjakan mata. *lope-lope* Naya senaaaaang sekali main di rumah kampung, bebas berlarian. Setelah beberes sebentar, selepas itu, boboooo..

Rumah di kampung berlatang belakang gunung dan sawah
Hari kedua di kampung kami masih sibuk beres-beres di rumah dan unpack beberapa barang yang dibawa dari Jakarta. Hari sedang rajin mendung jadi ngga bisa melihat sunrise. Plusss kami bertiga kecapean dan naya bangunnya siang, hahaha. Sore hari barulah kami pergi ke Danau Singkarak. Danau sedang agak pasang dan cuaca juga sudah mendung, jadi kami ngga explore danaunya. Jadi hanya menikmati kelapa bulat, beli ikan biliah (yang katanya hanya ada di Danau Singkarak), dan foto-fotoooo, hohoho.

Danau Singkarak di kala mendung



candid by hubby
Nah, seru ni hari ketiga di kampung, 17 Februari 2015. Passs banget dengan ulangtahun suami yang ke-30 tahun. Alhamdulillah lebih spesial karena merayakannya di kampung halaman. Ngga ada perayaan khusus, tapiiiii hari ini kami jalan-jalan ke Lembah Harau, Ngarai Sianok dan Bukittinggi. Wohooo, seruuuu.. Hanya kami bertiga. Lembah Harau baguussss banget, dan suami bilang kalo ada echo atau gema yang akan timbul kalo kita teriak. Meskipun ngga terlalu lama di sana, tapi alhamdulillah menyenangkan. Naya pun ngga rewel, happy good baby lah anak itu. Love her so much.








Setelah Lembah Harau kami makan siang itiak lado hijau di Ngarai Sianok. Pemandangannya pun rancak. *cieeee* Kombinasi udara sejuk, lapar dan pemandangan indah membuat makan jadi makin semangat. Alibiiii, hahaha. Nah sayangnya saya ngga ke goa jepang, ya karena membawa ucul agak riskan ya kalo ke goa jepang. Jadilah cukup makan sambil menikmati suasana sekeliling yang memanjakan lahir batin. :D




Lalu perjalanan lanjut ke benteng Fort De Kock. Eh tapi baru aja masuk, sudah hujan deraaass.. Ya nasiiiib, jadilah ngga bisa lama-lama di sana dan ngga bisa mampir juga ke jam gadang.


Malamnya mampir ke rumah salah satu kerabat papa, dan naya di sana seneng banget karena ketemu saudara yang hampir seumuran, dia 3 tahun naya 1,6 tahun, hehehe. Lucunya mereka ngobrol dan bercanda walaupun bahasa yang mereka gunakan berbeda. Aira bicara pakai bahasa Minang dan Naya bicara pakai bahasa planet, hahahaha. Their relationship beyonds languages boundaries. So sweet...

Kami di depan rumah gadang dari keluarga papa yangmasih terawat dengan baik
Aira dan Naya


Jumat malam sebelum resepsi diadakan salawek talam. Kalo mengutip wikipedia salawek talam adalah..

Salawat dulang, juga disebut salawek talam atau salawat talam dalam dialek-dialek bahasa Minangkabau, merupakan sastra lisan Minangkabau yang bertema Islam. Sastra lisan ini berupa pertunjukkan dua orang membacakan hafalan teks diiringi tabuhan dulang, nampan kuningan berdiameter 65 cm. Salawat dulang tersebar luas di ranah Minangkabau dan kadang hanya disebut salawek atau salawat dalam percakapan sehari-hari.[1]Dalam pertunjukkan tersebut, dua pendendang duduk bersisian dan menabuh dulang bersamaan. Keduanya dapat berdendang bersamaan atau saling menyambung larik dalamsyair.[1] Pendendang umumnya laki-laki. Namun, kini terdapat pula pendendang-pendendang perempuan meskipun belum begitu berterima di masyarakat Minangkabau sendiri.[2]Penampilan salawat dulang berupa tanya jawab, saling serang, dan saling mempertahankan diri sehingga pendendang kadang dijuluki menurut nama-nama senjata, seperti "peluru kendali" dan "gas beracun" dan hanya bisa dilaksanakan bila pendendang berjumlah setidaknya dua orang.[1] Pembacaan hafalan teks berdurasi antara 25 hingga 40 menit, biasanya berisi tafsiran dari ayat al-Quran atau Hadits yang telah ditulis sebelumnya. Sesi pembacaan satu teks ini disebut salabuahan (disebut juga satanggak atausatunggak).[2]Pertunjukkan salawat dulang dipertunjukkan pada hari-hari besar umat muslim seperti Maulid NabiIdul Fitri, dan Idul Adha atau pada upacara bernuansa agama seperti ketika menaiki rumah baru dan khatam al-Quran. Tempat penyelenggaraan salawat dulang biasanya merupakan tempat yang dipandang terhormat menurut nilai masyarakat Minangkabau, seperti surau atau masjid, atau tempat untuk tamu yang dihormati bila diadakan di rumah penduduk (terletak di bagian kiri dari pintu masuk utama).[2]
Salawek Talam
Karena dalam bahasa minang, saya ngga ngerti si, hahahaha. Tapi ada beberapa kalimat yang masih bisa ngerti dan memang lucu si, hihihi. Sehari sebelum resepsi juga kami menjemput mamih, kakak dan adik saya di bandara Padang. Makin seru karena keluarga saya dari Jakarta ikut bergabung.

Saat resepsi di tanggal 21 Februari 2015, ada juga upacara penyambutan kedua mempelai oleh tarian tradisional. Lagi-lagi karena membawa naya dan cuaca saat itu cukup terik, jadilah saya melipir dan ngga menikmati upacara tadi, huhuhu. Tapi untungnya suami mendokumentasikan dalam bentuk video. Indonesia memang kaya yaaaa..






Malam harinya diadakan permainan tradisional yang disebut Kim. Permainan Kim ini serupa dengan bingo, hanya saja ada semacam MC/moderator/penyanyi yang akan memandu acara. Nah salah satu yang populer namanya Gampo entertainment. dalam permainan ini si pemandu akan menyebutkan beberapa angka yang harus dicocokan peserta. Sambil menyebutkan angka, si pemandu ini sambil berdendang, pantun, menyanyikan lagu dan melawak. Jadi paket komplit dalam 1 orang. Dan memang permainan ini sangat menghibur. Warga sekitar sangat suka dengan permainan ini, yang datang banyak banget. Full book kalo bahasa kerennya, hehehe. Makin banyak yang tertarik datang selain karena hiburannya juga karena ada hadiah menarik yang disediakan. Walaupun acara sampai jam 2 pagi tetap warga setia menunggu sampai akhir acara.

Permainan Kim

Di hari Minggu, 22 Februari 2015 barulah kami bisa berjalan-jalan lagi, kali ini mengajak mamih, adik dan kakak saya. Rutenya adalah : Istana Basa Pagaruyung, Ngarai Sianok, Jam Gadang dan beli oleh-oleh di Bukittinggi.

Di depan Istana Basa Pagaruyung






Daaan, Senin 23 Februari 2015 liburan berakhir dan kami harus kembali ke Jakarta. Banyaaaak banget yang belum dikunjungi. Semoga bisa segera kembali lagi ke kampung dan siap menjelajah ke lebih banyak tempat; Padang, Teluk Bayur, Pantai Sikuai, Danau Maninjau, etc. Aamiin ya rabbal alamin..


Love you, life. :D

Wassalammu'alaikum wr wb.

7 comments:

  1. Wuaaaa serunya pulang kampuaaang!
    Walaupun nggak ada setetes darah minang selalu seru deh kalo bahas budayanya. Amyway, pengin ke istana Pagaruyung lalu pake baju anak daro.. :3

    ReplyDelete
  2. Seru ratriii, apalagi aku anak asli betawi yang ngga pernah ngerasain pulang lampung, hehehe. Yakin mau pakai baju anak daroooo? Suntiangnya berat lho, hihihi.

    ReplyDelete
  3. jalan-jalannya seru bangeet ..komplit pula fotonya :)..Saya pernah ke pekan baru tahun 200. It was a great city indeed..

    ReplyDelete
  4. @indah nuria : iya maaak seru banget, apalagi sama keluarga. Yes it's great city, sayang kemarin belum explore.

    ReplyDelete
  5. Wiiiiiiiiih pemandangannya indah bgt mbak, bikin saya takjub. Sungguh Indonesia kaya akan keindahan alam dan tempat wisatanya, inilah yang membuat bangsa asing betah ke Indonesia...seru ya perjalanannya bersama keluarga pasti jadi kenangan yang terindah TFS mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbaaa seru banget. Masih banyak yg bisa dieksplor padahal. Tapi jd ada alasan buat balik lagi si,hohoho. Thanks for stopping by ya mba.

      Delete
  6. Wedding-nya pakai adat lengkap ya :D Batusangkar jauh juga dari rumah ortu saya di Pariaman. Seru ya mba, orang Betawi berjodohnya dg orang seberang pulau. Pulang kampungnya bisa jauh2, hehe...

    ReplyDelete