Follow Me @lisna_dwi

June 02, 2016

Seminar Parenting Bersama Rise English FX

Assalamu'alaikum wr wb,

How to optimize our child’s learning ability and maximize their brain elasticity? Apakah itu? Kira-kira terjemahannya bebasnya gimana sih mengoptimalisasi kemampuan belajar anak kita dan memaksimalkan elastisitas otak mereka? Menarik ya kaaan, makanya waktu ada ajakan dari KEB (Kumpulan Emak Blogger) untuk ikut seminar ini akupun langsung mengiyakan untuk datang. Selain akan mendapat ilmu seputar parenting, juga akan bersua dengan beberapa blogger kesayangan, hohoho.

Di hari Sabtu, 28 Mei 2016 akhirnya saya meluncur ke Rise English FX Sudirman. Ini kali pertama juga membawa serta si kecil Naya untuk ikutan seminar atau event. Karena suami juga ada keperluan di Plaza Senayan, jadi saya ajak si mbak untuk menjaga Naya selama saya mengikuti seminar. Kalo ngga gitu mah, mama yang ada ikutan main sama Naya bukan seminar, hahaha. Alhamdulillah pas sampai di Rise English, FX ternyata tempatnya ngga sama seperti tempat kursus Bahasa Inggris pada umumnya. Terletak di FX Sudirman lantai 7, dari depan saja sudah terlihat bahwa sepertinya tempat ini memberikan sesuatu yang berbeda nih. Lebih seperti playground atau tempat playgroup gituuu, lebih mirip sekolah dan bukan sekedar tempat kursus. Saat masuk, di sebelah kanan pintu masuk ada area bermainnya, yeaaay. Langsung deh Naya ditemani mbak main di sana. Oke jadi mama bisa lumayan tenang ikutan menyimak materi dari narasumber yang profesional dan berpengalaman di bidangnya. Pembicaranya adalah seorang Psikolog dan penulis Ibu Hanlie Muliani, Mba Imelda sebagai praktisi pendidikan dari Rise English dan dimoderatori oleh Mba Felicia.

Narasumber pertama adalah Ibu Hanlie Muliani. Selain psikolog profesional, beliau juga penulis buku How To Deal With Your Child. Bu Hanlie membuka sesinya dengan beberapa pertanyaan soal pendidikan anak yang bikin saya manggut-manggut.




Gimana si cara memaksimalkan kecerdasan anak? Kapan anak mulai belajar? Dan apa metode terbaik untuk mendidik anak? Nah, biasa kan tuh yah pertanyaan macam itu wara-wiri di pikiran kita. Kemudian Bu Hanlie memaparkan soal Brain Plasticity. Otak memiliki sel saraf (neuron) hingga 100 milyar dan 100 triliun synapses. Synapse adalah gap (jarak) tipis antar neuron tempat terbentuknya koneksi antar neuron. Semakin banyak synapses yang terkoneksi dan semakin banyak, maka tingkat kecerdasannya makin tinggi. Jadi dari mulai di dalam kandungan si otak ini sudah mulai berkembang. Perkembangan otak yang baik adalah tergantung pada asupan nutrisi dan stimulasi yang baik yang diberikan ke janin. Makanya kan ya ibu hamil sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan bernutrisi terutama yang mengandung Asam folat, AA, DHA, Vitamin B16 dan B12. Stimulasinya bisa berupa komunikasi kepada janin, ajak ngobrol, memperdengarkan musik klasik, lantunan dzikir maupun ayat-ayat suci.






Nah, hingga lahir dan tumbuh pun masih perlu distimulasi. Karena otak kita itu pada dasarnya fleksibel dan mudah dibentuk. Fungsi dan struktur otak pada anak itu berubah menyesuaikan pengalaman anak, apakah itu pengalaman positif ataupun negatif. Karena plastisitas otak itu kodratnya mempunyai sifat yang kompetitif, maka pemenangnya adalah bagian yang paling terstimulasi. Misalnya ni anak mengalami dua macam stimulasi lewat pengalamannya. Stimulasi yang memberikan pengalaman negatif adalah jika ia dimarahin terus, disalahkan, ditakut-takuti, ditekan dsb, lalu sebaliknya stimulasi yang tepat akan menciptakan pengalaman positifnya seperti diajak belajar sambil bermain, dipuji tiap melakukan sesuatu yang positif, didukung, diberikan apresiasi, ditanyakan perasaannya, diberikan permainan yang fun dsb. Jika yang sering dilakukan adalah stimulasi negatif daripada positif, maka yang menang ya si bagian negatif tadi. Oleh karena itu sebaiknya, kita perbanyak stimulasi yang memberikan pengalaman positif pada anak. Sounds easy ya?! Padahal susah yaaa, kadang kitanya ngga sabaran, huhuhu. Tapi demi anak, kudu belajar untuk memenangkan bagian positifnya ya buibu pabapaaak.




Lalu, kapan si sebaiknya si otak anak mulai diberikan stimulasi? Mulai dari anaknya brojol ternyata buibuuu. Di masa golden period tahap pertama, yaitu di 1000 hari pertama anak, otak mengalami perkembangan yang sangat cepat. Hingga kemudian ia berusia 6 tahun, yaitu golden period berikutnya, otak anak berkembang semakin kompleks dan tinggi. Hingga akhirnya si anak menginjak usia remaja 14 tahun, otak akan terus berkembang. Alangkah baiknya pada masa golden period itu, synapses yang terkoneksi semakin banyak sehingga tingkat kecerdasan anak pun akan semakin baik. Caranya bagaimana? Dengan memberikan stimulasi pada anak. Dan stimulasinya pun bukan hanya diberikan untuk salah satu jenis kecerdasan saja. Jangan terus-terusan anak dicekoki matematika, tapi interpersonal intelligence-nya ngga distimulasi misalnya.




Ada 8 jenis kecerdasan yang alangkah baiknya jika mendapatkan porsi yang sama untuk diberikan perhatian, dipupuk secara proporsional sehingga anak tumbuh dengan balance. Nah, dalam memberikan stimulasinya itu teknologi bisa kita gunakan juga. Misalnya mengenalkan huruf, angka, atau warna dengan berbagai aplikasi khusus belajar anak. Belajar menulis di tablet. Tapi imbangkan dengan stimulasi langsung motorik anak dengan cara memegang pensil dan menulis di kertas misalnya. Harus berjalan seimbang.




Lalu ada tips menarik dari Bu Hanlie soal language intelligence, soal bener ngga si anak klo diberikan lebih dari 1 bahasa akan bingung bahasa. Anak akan bingung bahasa kalo jika 1 lawan bicaranya, misalnya ibu/ayah, berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda-beda, ganti2 gitu. Komunikasinya jadi gado-gado gitu, kadang mamanya pakai bahasa Inggris, kadang Jawa, kadang bahasa Indonesia. Pun begitu ketika ngomong sama nenek atau mbaknya misalnya. Pola yang tepat adalah jika pada mama bicara bahasa Inggris secara konsisten, terus menerus. Lalu dengan papa bahasa Indonesia. Atau dengan nenek bahasa Mandarin. Dan ingat kata kuncinya, konsisten ya. Nah dari pola itulah anak akan belajar dengan benar bahasa yang digunakan. Very well noted.

Manfaat membaca
Lalu kenapa si anak kudu belajar Bahasa asing terutama bahasa Inggris dari kecil? Pernah dengan soal MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)? Mengutip dari Wikipedia, "Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 (bahasa Inggris: ASEAN Economic Community (AEC)) adalah sebuah integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi perdagangan bebas antarnegara-negara ASEAN.[1] Seluruh negara anggota ASEAN telah menyepakati perjanjian ini. MEA dirancang untuk mewujudkan Wawasan ASEAN 2020." Bahasa sederhananya sih, warga ASEAN diperbolehkan kerja di negara manapun, di bidang apapun. Nah kalo si MEA ini benar-benar kejadian, anak kitalah yang nanti akan menjadi pesertanya. Apa si modal utamanya untuk mengahadapi MEA ini? Bahasa Inggris. *jleeeeb* Padahal saya, suami, neneknya, adik kakak saya, ipar saya, semuanya lulusan Bahasa atau Sastra Inggris. Tapi saya masih ngga serius menanggapi soal ini. *degdegdegdeg* Lalu Bu Hanlie memberikan fakta yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan Indonesia, bahwa kritik utama terhadap lulusan lembaga pendidikan di Indonesia adalah English proficiency atau kemahiran berbahasa Inggris. Nah, masih mau menutup matakah? Kembali ke strategi pengasuhan anak teman-teman sekalian yaaa..




Nah, disampaikan pula kerangka kompetensi abad 21, bahwa core subject saja tidak cukup. Oleh karena itu kecerdasan majemuk tadi harus dipupuk secara seimbang.



Lalu untuk kecerdasan matematika juga diberikan cara stimulasinya. Bisa melalui bermain block, membandingkan benda, mengikuti pola, etc.



Lalu ada visual spacial intelligence. Ternyata bermain dengan bentuk, puzzle, warna atau origami bisa memupuk kecerdasan ini lho.



Anak-anak suka bernyanyi atau mendengarkan musik. Nah, itu tandanya music intelligencenya berkembang dengan baik. Selain enak untuk didengarkan, musik itu memiliki banyak manfaat lho. Salah satunya meningkatkan kemampuan bahasa.



Tipe kecerdasan lainnya adalah kecerdasan fisik dan kecerdasan alam. Salah satu stimulasi yang paling mudah adalah dengan cara olahraga untuk kecerdasan fisik. Sedangkan untuk kecerdasan alam bisa dengan cara mengenalkan hewan, tanaman, berkebun, etc. Nah anak saya dominan banget ni di dua kecerdasan ini, hohoho. Kelewat fotoin slide kecerdasan alam. Huhuhu..



Selanjutnya adalah intrapersonal intelligence. Si anak biasanya mampu untuk memahami dirinya sendiri dengan baik, mengelola emosi dan mengekspresikannya. Nah untuk ini juga bisa kita latih ni. Misalnya jika anak sedang sedang sedih, marah, kita tanyakan apa emosi yang dia rasakan. Kita arahkan, adek sedih ya karena dilarang main, adek sebel karena harus tidur, tapi jangan lupa sampaikan alasan kenapa misalnya dia harus melakukan tindakan atau kegiatan tertentu. Jadi anak bisa mengekspresikan emosi dan mengendalikannya secara konstruktif.



Last but not least adalah inter personal intelligence. Meningkatkan empati anak adalah salah satu cara meningkatkan interpersonal intelligence. Misalnya dengan cara mencontohkan ketika anak jatuh, kita tolong dan kita tanyakan keadaannya, apakah sakit atau tidak, lalu kita tolong. Jadi anak bisa belajar dari contoh yang kita berikan. Ada juga tips dari Bu Hanlie soal melatih ke-8 intelligence melalui cerita. Soal ini sepertinya mau saya share di postingan terpisah sekalian praktek, hehehe. Sedikit deh, hihihi. Gunakan 2 tokoh saja, cerita terdiri dari 15 kalimat (apa 20 kalimat, maapkan lupa jumlahnya) dan selama 15 menit.
Pada suatu hari ada dua sahabat, bubu dan bibi. Mereka pergi ke hutan. Saking senangnya, mereka melompat-lompat kegirangan, sambil berlari berkejaran. Di dalam hutan mereka melihat aneka tanaman dan bertemu berbagai jenis hewan. And so on and so forth... 
Breakdown stimulasi kecerdasan yang digunakan diantaranya sbb :
- Language intelligence : si cerita itu sendiri
- Physical intelligence : melompat-lompat, berlari berkejaran
- Nature intelligence : di dalam hutan melihat aneka tanaman, bertemu berbagai jenis hewan

Nah udah 3 kan. Kalo ceritanya diteruskan bisa deh pasti 8 kecerdasan dimasukan, hihihi. Very well noted deh Bu Hanlie.



Nah, lalu hadir juga Mba Imelda dari Rise yang memberikan metode belajar yang ada di Rise. Di Rise English, anak-anak tidak hanya  belajar bahasa Inggris dengan cara yang old school. Ngga cuma dikasih pola grammar dan menghapalkan dari situ. Di Rise English anak belajar bahasa Inggris sambil distimulasi ke-8 kecerdasannya. Rise English menawarkan 3 teaching approach : active learning, positive guidance, scaffolding.


Active Learning

Why Rise is Different?

Guidance is a positive discipline. Bedakan dgn permisif ya buibu.

Positive guidance

Guru di Rise menjadi scaffolding dlm proses belajar anak. Guru memberi contoh. Lalu anak dibiarkan membentuk sesuai imajinasinya sendiri.

Scaffolding



Dan sebagai orangtua, tetap terlibat dalam proses belajar anak, jangan menyerahkan sepenuhnya pada lembaga pendidikan. Hands on kudu ya buibu pabapaaak...

Parents involvement matters

Oh ya di Rise semua gurunya tidak bekerja sambilan yaa. Semua guru dilatih dan direkrut dengan seksama, dan merupakan full time teacher yang bekerja sepenuh hati dan pikiran untuk memberikan materi yang efektif untuk anak-anak yang belajar di Rise English.

Setelah seminar selesai, saat berfoto bersama ibu-ibu blogger keceeeee..


Mira, Mba Oline, Desy dan Aie



Ini sneak peek ruangan di Rise English FX Sudirman.




Untuk info lebih lengkap, teman-teman bisa tengok website dan social media Rise English di :

Website : www.rise-id.com
Facebook page : https://www.facebook.com/rise.english.indonesia/
Twitter : https://twitter.com/RiseEnglish
Instagram : https://www.instagram.com/riseenglish/

Mereka juga punya activity seru di summer ini lho. Makanya cuuss langsung tanya-tanya aja yaaa..



Love you, life. :D

Wassalamu'alaikum wr wb.

8 comments:

  1. Well noted. Persiapan parenting kelak ♥ lisnaaa kamu sastra inggris tohh kerennn

    ReplyDelete
  2. Listya : iyes beneeer, buat bekal. Iya aku sastra Inggris, tapi malah banyak lupa ilmunyaaa..hahaha. >_<

    ReplyDelete
  3. Jadi inget dulu udah "dicekokin" les bahasa inggris, dari SD sampai SMA ga putus-putus les nya. Walau gonta-ganti lembaga sih hehehe, mulai dari belajar tenses sampai TOEFL preparation. Alhamdulillah membantu banget belajar sejak dini, setidaknya jadi lebih pede untuk menulis atau berbicara dalam bahasa inggris.

    Setuju banget kalau membaca banyak banget manfaatnya, pengalaman waktu kecil hobi membaca (walaupun sekarang mulai jarang baca buku lagi) tapi benar-benar memperluas wawasan & memudahkan kita untuk bersosialisasi dengan beragam orang :)

    *jadi panjang gini comment nya

    ReplyDelete
  4. Indah : ga papa panjaaang,hahaha. Dulu aku ga pake les si, tp emang sekarang metode blajarnya jd bisa lebih fun ndaaah. Mau nerapin ke anak, blum siaaap,hahaha. Soal baca setujuy,tp emang makin gede knapa makin susye ya bacaaa,huhuhu.

    ReplyDelete
  5. Lisna lulusan sastra Inggris ternyata. Baru tauu.. :D. Emang sebenernya tampak mudah ya. Tp kalo dikerjain sehari2 itu susah bgt mau konsisten ngomong bahasa tertentu. Wkwkwk.
    Tempatnya kereeen btw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mia : ilmunya jg banyak yg menguap ni miaaaa,hahaha. Iya emang susaaah. Makanya sm suami blum bisaaa.. iya tempatnya emang keren.

      Delete
  6. Aku lesin Raya ke Bu Lisna aja gimanaaa? hihihihi

    ReplyDelete
  7. Sandra : hahaha, ampuuun tak kuasa mengajar bocah. Migreen mamaaaa, hahaha.

    ReplyDelete