Follow Me @lisna_dwi

May 01, 2018

Kenapa Saya dan Keluarga Memilih Menjadi Nasabah Prudential



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pernah merasa skeptis sama yang namanya asuransi? Atau orang yang jadi agen asuransi deh? Dulunya saya begitu. Seriusan deh, gara-gara dulu saya satu gedung sama kantornya para agen asuransi, kadang saya suka menghindar kalo berhadapan sama mereka. Takut diprospek kakaaak, hahaha. Karena ada beberapa agen memang yang kekeuh sumekeuuh, bahkan saya pernah di prospek di bis kota sepulang kerja. Makin alergi deh jadinya, hahaha.


Pertama saya mulai memikirkan memiliki asuransi setelah saya punya uang lebih untuk ditabung, ya kira-kira di tahun kedua saya bekerja. Saat itu saya jadi karyawan di advertising agency yang ritme kerjanya yaaa begitulaaaah. Pulang melebihi jam kerja normal atau lembur hingga larut malam menjadi sahabat akrab saya. Dengan ritme kerja demikian, saya rasa tunjangan kesehatan yang diberikan perusahaan kurang mencukupi. Jadi saya pikir saat itu, kayaknya mesti ada back up asuransi lain ni biar kalo di opname ngga sengsara-sengsara amat, hahaha. Belum lagi saat itu saya masih berstatus karyawan kontrak, outsource pula. Yaah makin rentanlah itu posisi saya ya. Gayung bersambut, karena ada temannya kakak ipar saya yang kemudian menawarkan salah satu produk unit link dari bank yang bekerja sama dengan satu brand asuransi.

Tapi saya kecewa. Agen yang mengurus saya menghilang, saya ngga ngerti dengan perkembangan produk dan unit link yang saya miliki, dan setelah beberapa tahun saya menarik dana yang saya miliki. Rugi? Ya pastilah, hahaha. Sebagian juga salah saya memang karena saya memilih produk asuransi saat itu tanpa benar-benar paham dan faktor ngga enak hati karena yang menawarkan rekannya kakak. Setelah itu saya makin anti sama yang namanya asuransi atau agen-agennya, hahaha.

Berkeluarga Membuka (Lagi) Mata Saya Soal Asuransi

Lalu saya menikah, hamil, melahirkan dan punya anak. Alhamdulillah saya beruntung, karena perusahaan tempat saya bekerja memberikan tunjangan kesehatan unlimited kepada karyawannya. Waktu melihat tagihan RS saat saya melahirkan bikin ciut nyali, apalagi bayangin saya ngga punya back up asuransi lain. Sempat saat mengurus administrasi suami melihat ada keluarga pasien yang harus membayar dengan tabungan segala biaya perawatan dan ada yang dengan mudahnya tinggal gesek kartu anggota asuransi, bahkan ada staf tersendiri yang stand by di RS untuk mengurus nasabahnya!

Keluarga besar saya makin penting ketika saya sudah memiliki keluarga sendiri.

Pintu rezeki lain setelah anak lahir saat itu adalah suami diterima kerja di perusahaan baru yang jauh lebih baik. Tapi karena perusahaan asing, start up pula, tunjangan kesehatan bisa dibilang nol. Saya ngga akan jelasin di sini ya, entar jadi cerbung, hahaha. Terus kami jadi makin mikirin soal asuransi ini. Kami berdiskusi panjang karena memang ternyata ya kami memang butuh dan ngga boleh alergi lagi.

Lalu untuk apa aja sih asuransi ini?


  1. Perlindungan jiwa jangka panjang bagi diri sendiri dan keluarga. Dalam hal ini kalo buat saya dan keluarga adalah untuk proteksi suami. Apalagi suami saya ngga dapat benefit asuransi apapun dari kantornya. Saat saya dan suami sehat mungkin sepertinya baik-baik saja. Segala kebutuhan anak dan keluarga bisa terpenuhi, lalu bagaimana jika sesuatu tak terduga terjadi. Misal suami atau saya berpulang terlebih dahulu tapi anak-anak kami masih butuh banyak biaya untuk sekolah atau bahkan biaya untuk hidup dan makan sehari-hari?! Kami ngga mau sepeninggal kami, anak-anak atau keluarga kami hidup susah dan malah menanggung beban kami semasa hidup. Na'udzubillahimindzaliik.
  2. Asuransi bisa memberikan proteksi untuk penyakit yang tergolong kritis, misalnya kanker serviks, kanker payudara, osteoporosis, jantung, diabetes, dan stoke. Anak saya alhamdulillah bisa dapat benefit dari kantor saya, jadi untuk asuransi perlindungan kesehatan si kecil saya skip. Seperti yang sudah saya sebutkan, suami tidak mendapat asuransi kesehatan dari kantornya. Jadi kami merasa harus punya asuransi kesehatan untuk suami. Lha kalo misalnya sakit lalu harus dirawat inap, sebisa mungkin ngga mesti bobok tabungan, huhuhu. 
  3. Ngga selamanya saya dan suami jadi karyawan. Suatu hari nanti, kami ingin juga menikmati pensiun dan mungkin punya usaha sendiri. Pinginnya pensiun berjaya gitu lho, tenang tanpa perlu was-was mikirin kestabilan finansial keluarga. 
  4. Kami mau anak-anak kami kelak sekolah setinggi-tingginya. Inginnya sih minimal membiayai anak-anak kami minimal sampai S2. Maklum kami agak mager buat kuliah lagi, hahaha. *jangan ditiru* Tapi belasan tahun mendatang ketika anak kami kuliah, mungkin S1 saja ngga cukup. Biaya pendidikannya pun setelah dihitung-hitung sungguh Mashaa Allah banyaknya, khan maeen kakaaak. Mungkin minimal mereka harus mengeyam pendidikan sampai S2, atau bahkan mungkin S3. Atau S1 tapi bakalan saingan sama penduduk seluruh dunia. Dan masih banyak kemungkinan lainnya. Makanya ya paling aman kalo kami nabung buat pendidikan anak-anak kami kelak. Untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan mereka. Dan produk asuransi bisa mengakomodir kebutuhan kami untuk pendidikan anak ini. 


Terus Cuma Yang Sudah Berkeluarga Aja Yang Butuh Asuransi? Millenials Gimana?

Nah ini perkara menarik. Dari alasan saya dan suami soal asuransi kelihatannya semua hanya relevan buat orang yang sudah berkeluarga, bukan buat para single apalagi para millenials jaman now. Sebenarnya kalo mau dilihat dari rentang usia, saya dan suami masih masuk ke dalam golongan millenial. Hanya saja millenialsnya di batas bawah gitu deh, hampir ketendang keluar zona aman, hahaha. Jadi kalo misalnya ada teman-teman yang mikir asuransi hanya untuk orang yang sudah berkeluarga dan ingin settled down, sungguh wahai kalian salah, hehehe.

Coba deh dilihat, makin banyak sekarang millenials yang kerjanya tidak ingin terikat di satu perusahaan tertentu. Atau mereka bekerja di industri digital, start up, industri kreatif, baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena keluarga saya mengalaminya sendiri, suami pernah bekerja di suatu perusahaan digital terkemuka di dunia yang buka kantor di Indonesia, tapi ngga mendapat tunjangan kesehatan. Memang ada BPJS Kesehatan yang kami urus sendiri, tapi di beberapa kasus BPJS tidak efisien dan rasanya jika memang sanggup kami ingin mendapat pelayanan yang lebih baik dari itu.

Bersama para millenials, mantan millenials dan millenials mepet zona aman, hahaha. We love traveling and we love saving too, tsaaaaah, hahaha.

Lalu sebut saja millenials yang katanya lebih suka experience, travelling, try new things. Study yang pernah dilakukan oleh perusahaan saya mengenai millenials di tahun 2017 menemukan bahwa millenials di Indonesia bukan seperti millenials di luar negeri, atau di dunia barat. Millenials di Indonesia berdasarkan data dari responden kami, masih sangat mempertimbangkan keadaaan dan kesejahteraan orang tua dan keluarga mereka. Work life in harmony and balance really matter for Indonesian's millenials. Bahkan mayoritas responden masih berpikir soal spiritual balance dengan keinginan kuat untuk pergi haji atau wisata religi. Jadi mereka masih mikirin tuh sejauh-jauhnya mereka melanglang buana, ibu dan bapak mereka harus tetap sejahtera dan dalam keadaan baik sehat wal afiat. Seseringnya mereka keliling dunia, masih ada rencana juga untuk umroh, pergi haji atau wisata rohani ke Yerusalem. Bener apa benerrrr? hehehe.

Millenials yang hidupnya mobile dan mungkin masih belum ingin menetap justru jadi alasan makin kuat untuk mempetimbangkan asuransi. Jika memilih produk dan perusahaan asuransi yang tepat dan jaringannya luas di seluruh nusantara bahkan mancanegara, mau bertualang kemanapun ke seluruh dunia inshaa Allah lebih tenang. Atau investasi yang ditanamkan dari produk unit link pada asuransi bisa jadi tabungan untuk bisa travelling ke tempat-tempat menarik di Indonesia bahkan dunia. Bikin lebih disiplin nabung dan berinvestasi sekaligus.

Lalu Kenapa Saya dan Keluarga Menjatuhkan Pilihan Pada Asuransi Prudential Indonesia? 

Ada beberapa alasan saya dan keluarga akhirnya menjadi nasabah Prudential Indonesia. Terhitung hingga saat ini saya dan suami memiliki setidaknya 3 produk yaitu Pru Assurance Account (riders Pru Linkterm), Pru Edu Protection Syariah dan Pru Hospital & Surgical Cover Plus. Sungguh untuk akhirnya bisa menghilangkan alergi kami sama asuransi itu bukan hal mudah, hehehe. Ada beberapa alasan kami memilih Prudential.

  1. Kredibilitas dan kekuatan perusahaan. Ini penting. Karena saya ngga mau memberikan kepercayaan sama perusahaan yang ngga sehat. Apalagi ini soal proteksi kesehatan, pendidikan bahkan perlindungan jiwa keluarga saya. Jadi saya harus pastikan kepercayaan kami berikan pada institusi dan produk yang tepat sesuai dengan kebutuhan kami. 
  2. Produk dan layanan yang beragam dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Yah jujur aja saya dan suami ngga memulai tabungan kami dengan nilai yang langsung besar, tapi benar-benar bertahap menyesuaikan dengan kondisi keuangan kami. Nah bisa dibilang Prudential fleksibel untuk urusan perubahan.
  3. Klaim yang mudah dan cepat. Selain bisa melalui agen, juga bisa melalui online dashboard yang bisa diakses dan dipantau langsung oleh nasabah. Kemarin proses pencairannya ngga sampai seminggu. Setelah pencairan sebagian, masih bisa diteruskan lagi kok. Sejauh ini memang saya baru klaim untuk kebutuhan dana pendidikan Naya. Seriusan mau masuk TK aja mahal kaaak, paniang pala den, hahaha. 
  4. Lebih tenang dengan produk yang berbasis syariah. Memang beberapa produk yang lama yang saya ambil belum saya convert menjadi syariah, tapi yang terakhir sudah saya jadikan syariah supaya lebih tenang. Harapannya kan supaya lebih berkah inshaa Allah ya kaaak. Aamiin allahumma aamiin...
  5. Kakak saya sendiri yang menjadi agennya jadi inshaa Allah amanah, hihihi. Yang tertarik bisa banget DM atau email saya juga boleeeeh, hahaha. Produk yang kakak saya tawarkan semua yang Pru Syariah. 


Kenapa Kamu Perlu Mempertimbangkan Prudential Indonesia Sebagai "Obat Anti Alergi" Asuransi Kamu.

Dari Laporan Kinerja Keuangan Prudential Indonesia di tahun 2017 lalu, ada beberapa hal penting yang bisa jadi dasar kuat buat kamu yang sedang menimbang akan memilih produk asuransi.

Dari kiri-kanan: Corporate Communications and Sharia Director Prudential Indonesia, Nini Sumohandoyo, CEO Prudential Indonesia, Jens Reisch & Chief Investment Officer Prudential Indonesia, Novi Imelda

Prudential Indonesia mengundang para wartawan dan bloggers dalam Laporan Kinerja Keuangan 2017


  1. Pada tahun 2017, pembayaran total klaim asuransi tercatat sebesar Rp 12,3 triliun. Angka tersebut merupakan pertumbuhan sebesar 24%. Perusahaan juga bisa dikategorikan perusahaan yang sangat sehat dengan total aset sebesar Rp 81,7 triliun di tahun 2017. Di tahun yang sama, Prudential Indonesia mencatatkan pendapatan total premi tertinggi di industri sebesar Rp26,8 triliun dan juga dana kelolaan sebesar Rp73,4 triliun. Jens Reisch, Presiden Direktur Prudential Indonesia, menjelaskan, "Seluruh dan PRUlink kami menunjukan hasil yang positif tahun lalu dan merupakan salah satu top performer apabila dibandingkan dengan dana-dana saingan di kategorinya masing-masing," Berarti kepercayaan nasabah terhadap Prudential ini besar kakaaak. Okeh kulega, hahaha. 
  2. Indikasi bahwa masyarakat Indonesia juga makin melirik produk berbasis syariah juga terlihat pada laporan kinerja Prudential Indonesia. Prudential juga tetap memegang posisi terdepan melalui bisnis asuransi syariahnya dengan membukukan pendapatan kontribusi bruto sebesar Rp3,4 triliun dan juga aset sebesar Rp9,9 triliun di tahun 2017. Alhamdulillah kan, makin banyak orang yang concern soal hukum syara' bahkan untuk asuransi dan investasinya. 
  3. Dengan menempatkan nasabah sebagai fokus utama dalam menyusun strategi, Prudential Indonesia terus memperkuat kemampuan dalam memenuhi kebutuhan perlindungan keuangan jangka panjang masyarakat dan juga dalam memperkecil kesenjangan perlindungan di Indonesia. Contohnya ni Prudential Indonesia terus mengembangkan jalur-jalur distribusinya lewat jaringan tenaga pemasar atau agen dan bank rekanan untuk menjangkau nasabahnya. Prudential Indonesia saat ini memiliki jaringan agen terbesar di industri dengan total agen sebanyak lebih dari 277.000 orang per akhir 2017. 
  4. Prudential ngga berhenti berinovasi. Yah memang harus begini sih kalo mau tetap dicintai customer. Beberapa inovasinya antara lain PRUmedical network, sebuah jaringan rumah sakit rekanan perusahaan yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah Prudential Indonesia dalam mendapatkan perlindungan rawat inap. Benefit PRUmedical network antara lain lewat jaminan ketersediaan kamar rawat inap tanpa biaya tambahan dan juga penempatan staf khusus Prudential yang hadir untuk membantu proses administrasi nasabah dari sebelum sampai selesai rawat inap. Per bulan Maret 2018, layanan PRUmedical network telah tersedia di 47 rumah sakit di 25 kota di Indonesia. Wah berarti RS tempat saya melahirkan termasuk yang duluan sepertinya. 
  5. Layanan via online lewat PRUforce bagi para tenaga pemasar Prudential. PRUforce adalah aplikasi digital yang dapat diakses kapanpun di manapun. Hasilnya di tahun lalu, pengajuan asuransi jiwa oleh calon nasabah secara online melalui aplikasi sudah mencapai 40% dari total pengajuan. Hail technology!
  6. Saya termasuk salah satu yang melihat reputasi perusahaan dari kegiatan CSR yang mereka lakukan. Care and give itu menurut saya wajib dilakukan oleh company manapun. Apalagi yang jelas-jelas mendapat impact dan profit signifikan dari masyarakat. Beberapa diantaranya yang dilakukan oleh Prudential adalah membangun perumahan di Yogyakarta, mengkampanyekan keselamatan di pantai di Bali, dan mendukung pengembangan sekolah ramah anak di Papua. Semoga kedepannya makin banyak ya program CSR yang dilakukaaaan. Aamiin...

Jens Reisch menyampaikan bahwa hasil yang didapat Prudential menunjukan betapa masih besarnya potensi pertumbuhan pasar asuransi jiwa di Indonesia di mana segmen kelas menengah diprediksi tumbuh menjadi 140 juta jiwa di tahun 2020.

Dari kiri-kanan: Corporate Communications and Sharia Director Prudential Indonesia, Nini Sumohandoyo, CEO Prudential Indonesia, Jens Reisch & Chief Investment Officer Prudential Indonesia, Novi Imelda

Nah gimana, kamu masih alergi ngga sama asuransi? Atau ada koreksi, tambahan dan masukan buat bahasan saya di atas boleh silakan dikomen, hehehe. Thank youuuu..

Love you life. :D

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

6 comments:

  1. Asji murni wajib banget buat kepala keluarga, tapi kami belum beli2 jg nih sampe sekarang. Haha :p

    ReplyDelete
  2. Gue pun termasuk yang skeptis sama asuransi, dan ngandelin asuransi dari kantor kala itu. Hahahaha.. Tapi sekarang beda lagi, butuh banget asuransi terutama sih buat anak.

    ReplyDelete
  3. Emang asuransi harusnya jadi basic need sih, prinsipnya "sedia payung sebelum hujan,"

    ReplyDelete
  4. Sebagai agent pru ku bangga wkwkwkwk, memang dulu juga alergi tapi ternyata setelah saudara kena 'tipu' jadi nggak alergi dan malah sekalian jadi agen. Walau bukan agen aktif seenggaknya bisa bermanfaat untuk orang terdekat 😉

    Dan yes setuju baget, millenials Indonesia dengan latar belakang adat ketimuran dan sosial memastikan keluarganya aman nyaman damai tentrem baru melanglangbuana plus tetep impian mengunjungi tanah Haram, rumah Allah smg terkabul *aamiin.

    ReplyDelete
  5. Fokus saya teralihkan sama kalimat Milenial Mepet Zona Aman 😅😅😅

    ReplyDelete
  6. saya dulu ogah pakai asuransi, eh sekarang malah asuransi saya ada 3 mbak, haha, salah satunya ya prudential, tapi yang UL, udah jalan 3 tahun sekarang, sudah mulai berasa nilai investasi yang terbentuk mulai besar,

    ReplyDelete