Follow Me @lisna_dwi

December 17, 2014

Catatan ASI

Assalammu'alaikum wr wb,

Tulisan ini dibuat saat Naya (1y3m) sudah terlelap tidur setelah mamanya open bar menyusui doski selama kurang lebih 1 jam. Demi memenuhi janji ke diri sendiri untuk mulai rajin lagi menulis, tulisan kali ini (seperti judulnya) akan membahas soal ASI-mengASI. Tadinya sih mau sharing soal Consumer Insight hasil dari workshop kemarin. Tapiiii, saya skip dulu karena saat ini saya sedang sekalian ingin mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlena dan malas-malasan menyusui atau pumping. Yak semangat buibuuuu..  photo 208.gif


 photo chat026.gif Pertama, NIAT. Kenapa saya bold dan capslock? Yak, karena pertama-tama semuanya berawal dari niat sodara-sodara. Niat baik aja udah dapat pahala lho, hehehe. Waktu hamil dulu sudah bertekad mau memberikan ASI, mulai dari masa ASI ekslusif sampai usia 2 tahun, sesuai dengan yang dianjurkan dalam Al Quran dan lembaga kesehatan dan anak dunia semacam UNICEF dan WHO (CMIIW). ASI juga hak anak dan jika tidak ada kendala apapun yang menghalangi sang ibu untuk menyusui, sebaiknya memang dibuatlah supaya dua aset buibu itu berfaedah, hehehe. Dulu juga saya anak ASI, full 2 tahun. Jadi pingin juga rasanya memberikan ASI buat naya seperti dulu mamih memberikannya pada saya.

 photo 134.gifKedua, Ask for Support. Kenapa demikian, karena dukungan orang-orang di sekitar itu amat sangat penting. Dukungan dari siapa aja? Dari inner circle dulu deh; pasangan, orang tua, kakak, adik, sahabat, etc. Karena ada kalanya di awal-awal masa setelah melahirkan dan menyusui, rasanya ko ya beraaaat, mellowww, capeeeek, pokoknya kadang kala emosi ini naik turun serupa berat badan *curcoooooool*. Dan ketidak-happy-an ini bisa berpengaruh sama lancar dan tidaknya proses menyusui. Nah, disinilah dibutuhkan support dan motivasi dari orang-orang terdekat supaya kita tetap bisa cheer up dan berkurang stressnya. Sampaikan niat memberikan ASI ini dari jauh-jauh hari, ngga usah ragu atau ngga enakan. Dan jangan merasa orang akan tau dengan sendirinya kalo kita butuh support A,B,C,D. Ngga semua orang, bisa tau dan bisa langsung paham. Ingat sodara-sodara, mereka bukan cenayang, hehehehe. Alhamdulillah semua inner circle saya mendukung dan sangat pengertian, jadi memang saya beruntung sekali. Bagaimana yang tidak seberuntung saya, yang malahan kendala datang dari inner circle mereka? Jangan menyerah teman-temin, coba buka-buka forum ibu-ibu yang bisa jadi tempat curhat dan memberikan semangat. Mungkin bisa juga membantu. Eh tapi pintar-pintar pilah-pilih informasi juga ya di forum, jangan semuanya dimasukin ke hati, pikiran, jiwa, dan raga. Entar yang ada bukan malah motivasi yang didapat, tapi makin stress cyiiin... Selain itu support juga harus datang dari tenaga kesehatan (dokter, bidan, suster, RS, tenaga RS). Sebisa mungkin carilah dokter, bidan atau RS yang pro ASI. Kalo mereka ngga pro ASI amat, jadilah ibu yang kekeuh serta berilmu kalo gitu, hehehe. Jadi, kalo mereka mau macam-macam kita sudah well informed dan punya pengetahuan yang cukup.

 photo 199.gifKetiga, Cari Informasi. Setelah niat dan dukungan didapat, jangan lupa untuk cari informasi sebanyak-banyaknya. Jangan ragu untuk tanya kalo bingung atau ngga tau. Karena malu bertanya sesat di jalan, hehehe. Browsing dan googling, baca atau cari tau dari pengalaman orang lain, dokter atau tenaga kesehatan, baca buku yang bicara tentang ASI, etc. Tapiiiiii, kadang kebanyakan informasi dan bahan bacaan jadi bikin pusing, keblinger dan ujung-ujungnya stress sendiri, hahahaha. Lagi-lagi kita kudu pinter-pinter pilih informasi dan sumber literatur nih buibu; mana kira-kira informasi yang relevan sama diri dan kehidupan kita, mana informasi yang mitos dan mana yang fakta. Kadang ada perbedaan sedikit antara sumber satu dengan sumber yang lainnya. Kalo saya sih, coba dicari yang paling banyak kesamaannya, dan mana yang paling banyak dipakai, itu deh yang saya terapkan, hohoho. Ada beberapa sumber yang mungkin bisa dijadikan acuan :

http://www.ayahasi.org/
http://aimi-asi.org/
http://www.babycenter.com/breastfeeding-basics
- Buku Smart Parents for Healthy Children karangan dr. Purnamawati S, Pujiarto, SpAK, MMped.

Kalo pada masa menyusui menemui kendala atau mengalami hal-hal yang sepertinya tidak kita temukan di artikel atau buku, biasanya saya nyemplung ke forum diskusi ibu-ibu, misalnya mommiesdaily atau theurbanmama. Kadang ada yang pengalamannya serupa dan sudah tersedia solusinya, atau kita bisa juga lempar pertanyaan dan kebingungan kita di situ. Kalo saya tipe silent reader si, hehehe. Saya coba cari pengalaman yang kurang lebih sama, baca sampai habis diskusinya baru deh bingung, hahahaha. Maksudnya baru deh biasanya dapat pencerahan. Selain itu, manfaatkan waktu konsultasi dengan dokter untuk bertanya sebanyak-banyaknya. Kalo perlu, catat dulu sebelum waktu konsultasi. Biasanya si saya gitu trus dokter anak atau dokter kandungan saya akan sabar melayani pertanyaan-pertanyaan saya yang banyak itu, hehehe. Dan alhamdulillah, lagi-lagi saya beruntung pengalaman sahabat dan mamih jadi bekal sangat berharga dalam proses ngASI ini.


 photo 186.gif Keempat, Peralatan/Perlengkapan. Apakah peralatan dan perlengkapan yang saya maksud di sini? Tak lain dan tak bukan adalah alat atau perlengkapan yang dibutuhkan demi lancarnya proses menyusui. Asiiik, artinya belanjaaaa, hahahaha. That's one of the fun parts. Maklum naluri wanita, hihihi. Kalo buat saya yang ibu bekerja, peralatan/perlengkapan yang penting ada beberapa hal sbb :

- Breast pump aka pompa ASI. Selama bekerja, bayi saya akan minum ASI Perahan atau ASIP. Karena memerah sendiri payudara lumayan makan waktu dan pegel sangat, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan breast pump. Dari hasil baca-baca dan browsing sana-sini, pada dasarnya breast pump ini terdiri dari dua, yaitu yang manual dan electric. Bedanya, seperti namanya kalo pada manual alat isapnya digerakan oleh gerakan tangan kita sedangkan pada jenis electric, pompa bekerja karena adanya tenaga listrik. Masing-masing ada plus minusnya sih dan belum tentu breast pump paling mahal akan berarti paling bagus, dan sebaliknya breast pump murah belum tentu jelek. Breast pump ini cocok-cocokan, jadi breast pump yang cocok buat satu mama belum tentu akan cocok di mama yang lain. Jadiii, referensi dari teman, forum atau tulisan orang jangan dijadikan patokan mutlak bahwa breast pump yang dibicarakan akan cocok di kita. Jadi, tahan dulu keinginan untuk beli breast pump hanya karena paling mahal dan dapat titel paling direkomendasi abad ini. Kalo bisa pinjam buat test drive ni ibaratnya, lebih baik pinjam dulu. Baru setelah dirasa enak, beli deh.

Misalnya saya. Awalnya dulu beli breast pump, capcipcup aja asal nanya sama pelayan toko di Fany Baby ITC Kuningan, toko perlengkapan bayi tersohor di Jakarta (tsaaaah). Mereknya Unimom Mezzo Manual Breastpump. Karena kebodohan saya, breastpump ini sempat nganggur kurang lebih 3 bulan, saya salah cara pakainya. Makanya biasakan baca manual dengan baik dan benar ya buibu, jangan kaya' saya.  photo 200.gif Akhirnya saya coba pinjam breast pump punya sahabat saya, yaitu merek Medela Harmony dan Medela Base, keduanya manual. Akhirnya saya beli lagi Medela Base itu, penampakannya seperti ini buibu :

Medela Base Manual Breast Pump
Cukup oke si, tapi emang pegel boooo, hahaha. Hasil pompa saat itu so so lah, tapi alhamdulillah cukup buat si ucul. Tapi menggunakan tipe ini menurut saya lebih lama dan cepet pegel, jadi kurang efisien rasanya karena makin lama pumping berarti makin berkurang juga waktu bekerja. Jadi saya akhirnya buka lagi Unimom yang sempat saya telantarkan itu.

Unimom Mezzo Manual Breast Pump
Daaaaaan, setelah melakukan penggunaan sesuai kaidah yang benar, saya langsung dapet chemistry-nya dengan breast pump ini *nikaaaah kali ah pake chemistry* hahahaha. Coba deh klik ke link yang ada di gambar, di situ ada referensi dari salah satu webstore favorit saya. Buat saya, breast pump ini recommended, selain mudah penggunaannya, nyaman, dan harganya terjangkau banget. Ada si kekurangannya, tapi mungkin akan berbeda juga di tiap orang. Karena saya kalo pumping itu sangat bersemangat memompa tuasnya, jadi selama 1 tahun ini saya sudah 4x ganti tuas, hahahaha. Karena sugesti aja si sebenarnya, makin cepat pompanya, harapannya makin mancur ASI-nya, walaupun ngga selalu begitu si, hahahaha. Dan saya juga sudah 1x ganti silicone massager (bagian yang nempel ke payudara), ya wajar si ya setelah 1 tahun pemakaian. Sparepart-nya pun mudah didapat. Kalo saya, karena ngga mau ribet biasanya beli di http://gerailaktasi.com/

- Botol, dot, sendok, feeding cup, etc. Nah soal peranti satu ini, untung-untungan ni, hehehe. Kenapa saya bilang begitu, karena ada bayi yang ngga masalah dikasih ASIP pakai sendok atau feeding cup, tapi ada bayi yang ngga sabaran dan maunya pakai dot. Selain itu idealnya ngga pakai dot karena supaya bayi ngga bingung puting. Naya sebenarnya waktu di RS terbiasa minum ASI dari feeding cup, tapi susternya juga canggih ngasihnya. Jadi ASI bisa diminum tanpa tumpah-tumpah, Pas dicoba sendiri di rumah, eng ing eeeng.. ASI-nya jadi kebuang-buang, padahal udah mati-matian itu nimbunnya, huhuhu. Apa daya, idealisme akhirnya harus ngalah sama kenyataan di lapangan. Akhirnya memutuskan pakai dot. Ini dia, jenis dot itu macam-macam buibuuuu..Saya aja sempat bingung, ada yang menyerupai puting bentuknya, mekanisme begini begitu, etc. Saya sempat coba merek Simba, Pigeon, dan Tommee Tippee. Eh susah semua, ngga cocok sama si ucul. Akhirnya nyobain Huki yang dotnya gepeng, yang murah meriah, dan ngga banyak direkomendasikan karena ngga mendekati mekanisme puting, sedotan bayi, whatsoever. Tapiiiii, ternyata cocok di naya tuh. 

HUKI Orthodontic Silicone Nipple
Nah kalo takut-takut bingung puting karena dot tipe ini membuat keluarnya ASI lebih mudah daripada menyusu langsung, jangan khawatir. Kalo pengalaman saya si, supaya ngga bingung puting jangan dikasih dot dari awal lahir. Saya latihan pakai dot setelah memasuki usia 2 bulan. Jadi kan udah pinter tuh bayinya, setelah itu baru deh dicoba sesekali kasih ASIP pakai dot. Di selang-seling dan jangan ibunya yang kasih karena bayi itu pinter. Pengalaman saya dan beberapa teman, karena kita biasa menyusui sendiri, giliran si bayi diberikan ASIP lewat dot oleh ibunya, biasanya dia langsung nolak. Karena dia tau kalo ada mamanya, biasanya dia nyusu langsung dong, eh ngapain ini pake dot ya. Yah kira-kira gitu kalo nalar saya, hehehe. Buat aja situasi sesungguhnya, di mana mamanya sedang tidak ada di dekat si bayi. Jadi, dia mau ngga mau kudu nyusu kan ya karena laper dan ngga ada pilihan, hihihi.

- Breast shell dan breast pad. Ini juga penting buat saya. Dan banyak yang belum tau soal breast shell ini, saya pun taunya telat sih dan rasanya nyeseeeeel banget. Okay, mari bahas satu persatu. Umumnya orang taunya breast pad, fungsinya menahan rembesan ASI yang keluar dari payudara supaya tidak bocor kemana-mana.

Contoh Breast Pad
Praktis, ada yang disposable, sekali pakai langsung buang. Atau kalo mau sedikit hemat, ada yang bisa dicuci sehingga bisa beberapa kali pakai. Kekurangannya menurut saya adalah, ASI yang merembes ikut kebuang. Padahaaaaaal, rembesan itu jumlahnya bisa sekitar 10-30ml. Buat saya yang hasil perahannya ngga melimpah ruah, jumlah segitu itu berharga banget. Lalu, dari hasil browsing sana-sini akhirnya saya menemukan yang namanya Breast Shell.  Sampai-sampai siapapun teman yang bertanya soal perlengkapan menyusui saya pasti merekomendasikan breast shell ini, hahahaha.

Breast Shell Philips Avent
Jadi cara kerjanya begini buibu. Kalo sedang menyusui atau pumping kan, salah satu payudara yang nganggur seringkali mengeluarkan ASI yang merembes tuh. Si breast shell ini, dipakaikan di payudara yang nganggur buibu, ASI rembesan itu akan tertampung oleh wadah serupa mangkuk kecil itu. Jadi, ASI rembesan bisa kita simpan dan satukan dengan hasil perahan. Manfaat lain si breast shell ini adalah melindungi puting dari gesekan ketika si puting sedang luka atau lecet-lecet. Kekurangannya cuma bentuk payudara jadi lebih munjung aja sih, hahahaha. Tapi ngga apa-apalah buibu demi melindungi aset kan yah?! Hohoho..

- Botol kaca ASIP. Buat menampung ASIP, saya memilih menggunakan botol kaca karena bisa dipakai berkali-kali dan lebih kuat dibanding plastik yang mudah robek. Biasanya saya pakai botol yang berukuran 100 ml dan 50 ml. Harganya pun bervariasi ada yang berkisar 2000an untuk yang botol rekondisi tutup baru (botolnya botol bekas yang sudah disteril, tutup botol baru) hingga puluhan ribu rupiah untuk botol baru. Kalo mau ngerasa lebih save si lebih baik beli botol baru sekalian. Kalo yang standar ngga terlalu mahal kok, mengingat botol ini bisa dipakai berulang-ulang.

Botol kaca ASIP
Oiya, walaupun tertulis bisa menampung sampai 120 ml, sebaiknya hanya mengisi botol sampai batas leher botol atau setara dengan 100 ml. Karena jika diisi berlebih dampaknya ada 2, tutup akan meletup dan lepas dari botol atau kalo menggunakan botol yang tutupnya ulir, biasanya botol akan pecah kalo diisi kepenuhan. Dan, saya mengalami keduanya, hahaha.

- Cooler bag dan ice pack. Ini penting juga buat ibu-ibu yang bermaksud menyimpan ASIP. Biasanya cooler bag yang memang khusus menyimpan ASIP akan dilengkapi dengan ice gel or ice pack. Jenisnya macam-macam dan sekarang lucu-lucu ko modelnya. Yang paling banyak direkomendasikan sejauh ini adalah Gabag. Saya juga menggunakan Gabag ini, karena kualitasnya memang bagus dan modelnya cukup gaya. Jadi ngga terlalu keliatan gitu kalo tas ini isinya ASI perahan, hahahaha. Dari pengalaman saya si, untuk menyimpan ASIP beku idealnya dalam 3-5 jam ASIP akan aman tetap beku. Selebihnya pasti akan ada meleleh sedikit si yah. Coba klik link ini deh buat lihat macam-macam jenisnya: http://gabag-indonesia.com/gabag-cooler-bag

Contoh cooler bag

Ice gel

Kelima, Realita. Ini dia tahap akhirnya. Praktek langsung dari bayi baru lahir sampai akhirnya 2 tahun. Kendala dan godaannya macam-macam, misalnya baru brojol udah bingung bagaimana pelekatan yang benar. Yang saya alamin sendiri nih ya; menyisihkan waktu pumping di tengah-tengah pekerjaan, puting lecet-lecet sampai berdarah, ASIP seret, less happiness less result (so be always happy ya), dan yang paling terkini ni jadi agak malas pumping karena naya sudah makan dan minum ASIP selama saya kerja jadi lebih sedikit. Padahal makin sering distimulasi, makin baik untuk produksi ASI. Tapi kalo ngga diperah atau disusui langsung, akibatnya produksi akan seret atau bahkan terhenti. Pengalaman memberi ASI ini seru nih, lain kali deh ya bahasnya. Sudah sepet ini mata, hehehe. 

Buat yang sedang bersiap-siap ngASI, selamat dan sukses ya. Buat yang sedang mengalami masa-masa kemalasan seperti saya, semangaaaaat, demi anak ya buibuuu, jangan menyeraaaah. *ngomongsamadirisendiri* Buat yang akhirnya ngga bisa ngASI, jangan kecil hati yaaa. Yang penting sudah melakukan yang terbaik buat si kecil dan si kecil tumbuh sehat tanpa kekurangan apapun. 

Semoga berguna ya teman-teman. 

Perangkat Perang, hihihi

Wassalammu'alaikum wr wb.


Still, love u, life. =D

10 comments:

  1. Mbak, saya juga pakai unimom mezzo tapi kok asinya bocor lewat silikonnya... Tekniknya gimana ya biar nggak bocor?

    ReplyDelete
  2. Hi mba NR. Unimom mezzo-nya masih barukah? Kalo iya, mungkin hanya ngga pas aja penempatannya. Dan pastikan corong dan silicon massager-nya dalam keadaan kering mba. Kalo biasanya, aku pegangi lagi di bagian corong supaya ngga bergeser atau ada udara masuk.

    Kalo sudah pernah dipakai selama beberapa waktu, mungkin sillicon massagernya harus diganti karena kendor.

    Semoga berhasil ya mba.

    ReplyDelete
  3. Wuaahh panjang banget ya tulisannya...mengingatkan saat2 menyusui belasan thn yll... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai maak. Iya lagi on fire pas nulis,hehehe. Wah anak2 sudah besar ya mba berarti sekarang?

      Delete
  4. Saya pakai tangan Mak. Ngirit :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang bener maaak. Pakai tangan irit dan praktis. Tapi klo aku lama maaak..huhuhu. Kurang canggih jd ga bisa cepet.

      Delete
  5. saya juga sedang berjuang bisa memberikan asi anak kedua selama 2 tahun ni mak, semoga berhasil :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tosss klo gitu mak. Semangat ya mak. Anak usia berapa?

      Delete
  6. Lisna tulisannya bagus & lengkap banget infonya 😀 semangat ngASI!!!

    ReplyDelete
  7. Tia : mamaci tiaaa. Smangat yaaa.. Semoga lulus sampai 2 tahun. :D

    ReplyDelete