July 31, 2016

Menempuh 3075 Km + 81 Jam Demi Silaturahmi



Assalamu'alaikum wr wb,

Mungkin kalo teman-teman baca judul tulisan ini sudah melakukan kalkulasi dalam pikiran masing-masing, sejauh apakah itu? Hehehe. Lebaran kali ini sangat berbeda buat saya. Apa sebab? Beberapa minggu sebelum puasa, mama mertua mengajak lebaran di kampung halaman (keluarga suami) yaitu Batusangkar, Sumatera Barat, dengan menggunakan mobil. Seneng ngga? Seneng dong. Deg-degan? Iyalah. Parno, jiper? Pastilaaaah,hahaha. Ini adalah mudik hari raya pertama saya. Pakai mobil dan via jalur darat pula. Selama 30 tahun hidup saya, saya selalu merayakan Idul Fitri di Jakarta. Mudiknya ke Pondokgede dan Cibinong aja karena saya orang betawi. Keluarga dari pihak suamipun kebanyakan sudah di Jakarta. Walaupun sudah 2x ke Batusangkar, tapi perjalanan darat ke tanah Sumatera memang bikin saya lumayan gelisah, hahahaha.


Kecemasan Melanda Saya

Apa sih yang bikin saya cemas? Jauhnya itu loooooooh, hahaha. Belum lagi berita kemacetan yang saya dengar/baca/tonton di berbagai media hingga diceritakan langsung oleh teman atau kerabat sendiri. Suami juga bilang perjalanan akan makan waktu dua hari, dengan jeda bermalam di Palembang diantaranya. Dua hari pemirsaaaah, dua hariiii! *zoom in zoom out* hahaha.. Belum lagi mikirin Naya nanti gimana di perjalanan, rewel apa engga, makannya gimana. Lalu medannya seperti apa, belum lagi kisah bajing loncat, jalan yang rusak, longsor, etc. Buat saya yang ngga pernah mudik lebaran, itu sungguh bikin ciut nyali loh. Sebut saya lebay ngga apa-apa deh, emang gitu rasanya, hahaha.

Jalannya jauuuuuuh...

Teman ada yang nanya, "Kenapa ngga naik pesawat aja sih?" Keputusan mudik terlalu mepet dengan waktu puasa, harga tiket juga menggila. Sayapun beberapa kali sempat mengajukan proposal ke suami untuk naik pesawat, tapi memang setelah mengecek harga Garuda atau Batik Air, harganya udah selangit. Yaiyalah yaa nyarinya mepet, hahaha. Suami menenangkan bahwa perjalanan akan baik-baik aja dan mudik dengan mobil bisa menghemat hingga 600%. It's a lot of money, my friend. Dan sayapun menyerah...


Checklist, Prepare, Prepare, Prepare.

Memang kebiasaan saya tiap travelling selalu buat list apa aja yang dibawa. Alasannya tentu saja supaya ngga ada barang yang terlewat. Apalagi sekarang harus menyiapkan amunisi buat Naya selama perjalanan. Jadi strategi saya seperti ini :

- Menyiapkan koper untuk keperluan selama di kampung dan tas terpisah untuk keperluan perjalanan. Dalam tas perjalanan itu lengkap dengan baju ganti, underwear, toiletries, alat shalat, skincare, pembalut, handuk kecil, diapers, obat-obatan, plastik baju kotor, berbagai macam minyak (telon, kayu putih, tawon, you name it) dan hand sanitizer. Dalam koper jangan ditanya deh ya isinya, sudah saya siapkan dari mulai day 1 di kampung, sampai waktunya pulang. Kalo saya sebut isinya ngga akan kelar 2 tulisan, hahaha.

- Perbekalan makanan saya bagi 3 : cemilan untuk orang dewasa, cemilan buat naya dan bahan makanan untuk Naya. Cemilan untuk orang dewasa mulai dari roti, kue sampai snack mecin, hahahaha. Cemilan buat naya mulai dari buah-buahan, telor rebus, jagung rebus, cornflake, roti, susu, cracker, biskuit gandum, keju, dsb. Bahan makanan saya bawa karena di daerah Sumbar nasinya pera, hampir ngga ada tuh nasi pulen. Dan naya dalam situasi normal pun makannya agak susah, jadi saran saya bawalah beras pulen dari Jawa. Penting! Hahaha. Selain itu saya bawa pasta kering, pasta tomat, pewarna makanan dan bahan lain yang sekiranya akan saya sulit temui di sana. Oya, di tanah Minang jangan harap akan menemukan Indomaret atau Alfamart ya, karena ngga akan ada. Pemerintah setempat melarang adanya convenient store waralaba dari luar.

- Menghadapi perjalanan jauh saya menyiapkan berbagai mainan, alat melukis & mewarnai, buku, dan DVD buat saya & suami + Naya. Mulai dari Ipin Upin, Barbie, Barney, dkk. Siap-siap mabok barney, hahahaha.

Salah satu mainan yang harus dibawa, block. 

- Alat yang tadinya saya underestimate adalah HT atau handy talkie. Pas suami bilang mau beli HT saya sempat bertanya, "Buat apa yang? Kan kita semua punya hp?!" Suami bilang sepanjang jalan nanti kami akan melalui banyak blank spot, jadi telepon selular tiada akan berguna. Selain itu, karena kami akan konvoi dengan dua mobil maka adanya HT akan saling mengingatkan kami untuk tidak saling meninggalkan. Suami saya beli Mall Ambassador 2 set seharga 1,3 juta kalo ngga salah. Dan saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk beli HT jika konvoi dalam trip jauh macam saya dan keluarga. Really worth it.





- Peralatan safety dan perkakas mobil juga wajib dibawa. Beberapa contohnya antara lain segitiga pengaman, cone orange marka jalan (bisa dibeli lengkap di Ace, hanya 70ribuan), keluarga obeng, ban serep, dongkrak n the genk, senter, dsb. Ngga hapal saya nama dan istilahnya, maapiiin, hahaha.

- Air Mineral yang banyak dan berbagai macam tissue. Selain buat minum juga buat basuh setelah buang air. Percayalah, toilet sepanjang jalur Sumatera ngga semuanya memadai, terutama airnya. Jadi, lebih baik kamu bawa banyak deh. Selain itu tissue juga penting, yang saya maksud sbb : tissue kering, basah, antiseptik, kewanitaan.

- Last but not least, persiapan mental. Hahahaha..


1404 Km Perjalanan via Jalur Lintas Timur

Saya berangkat tanggal 1 Juli 2016 malam. Saya baca memang malam itu akan jadi puncak arus mudik ke Sumatera. Sebelumnya saya sudah baca soal mampetnya jalur Brexit. Oh my, semoga jalur Sumatera ini ngga kayak Brexit, hahaha. Dari Jakarta selepas shalat isya sekitar pukul 20.00, menuju Pelabuhan Merak. Sampai merak sekitar pukul 23.30. Dan ternyata disitulah dimulai penantian saya malam itu. Kami harus menunggu selama hampir 7 jam baru bisa naik kapal. Dan saking desperate-nya saya, saya sampai nyampah di tweet dan cc pak presiden. Yakali pak presiden mau baca curcolan saya, hahahahaha. Lalu naya gimana? She was soooooooo nice. Ngga rewel sama sekali. Malah tidur anteng dan ngoceh aja sepanjang jalan. Anak mama papa pinter bangeeeet..

Lelah hayati lelah..hahaha



Akhirnya jam 7 kayaknya kapal kami jalan. Saya udah sampai ngga lihat jam si sejujurnya, lelah hayati kakaaaaa..hahaha. Di kapal jangan harap bisa duduk nyaman yaaa.. Tiap sudut ada manusianyaaa, hahaha. Betapa orang rela berpeluh, menempuh jarak yang jauh demi silaturahmi bersama keluarga, demi menuntaskan rasa rindu akan rumah. Ahhh, semoga Allah selalu melindungi para pemudik ini ya. Walaupun agak miris lihat balita tiduran di lantai kapal, panas-panasan, huhuhu. Kami bertiga cukup puas berdiri di sisi kapal, memandang laut dan mencari angin segar. Subhanallah, Alhamdulillah.

Dari Pelabuhan Bakaheuni sekitar jam 10.00. Perjalanan langsung berlanjut. Kami hanya berhenti untuk shalat, beli bensin, toilet break dan makan malam. Di mobil kami, suami menyetir bergantian dengan Om kami yang juga ikut mudik. Di beberapa titik jalanan memang rusak berat dan harus dilalui secara bergantian. Bahkan ban mobil papa sampai robek dan harus diganti. Naya masih anteng dengan stok makanan yang saya bawa dan DVD serta mainan jikalau dia bosan. Alhamdulillah. Dan HT memang terbukti sangat berguna dalam perjalanan melalui area blank spot macam hutan, atau kebun kelapa sawit.




Tidur dalam perjalanan.

Jalan di Muara Bungo


Rute lengkapnya :

Jakarta-Merak =120 km, Bakauheni-Kalianda = 24 km, Kalianda-Bandar Lampung = 65 km, Bandar Lampung-Terbanggi Besar = 71 km, Terbanggi besar-Menggala = 50 km, Menggala-Tulang Bawang = 32 km, Tulang bawang-Teluk gelam = 134 km, Teluk gelam-Indralaya = 71 km, Indralaya-Palembang = 51 km, Palembang-sungai lilin = 68 km, Sungai Lilin-Bayung Lincir = 50 km, Bayung Lincir-Simpang Tempino = 127 km, Simpang Tempino-Jambi = 32 km, Jambi-Muara Bulian = 50 km, Muara bulian-Muara tembesi = 44 km, Muara Tembesi-Muara tebo = 80 km, Muara tebo-Muara bungo = 53 km, Muara Bungo-Gn. Medan = 90 km, Gn. Medan-Solok = 138 km, Solok-Padang = 54 km. Total Jarak tempuh = 1404 km.

Bus AKAP yang melewati Lintas ini : LORENA, Bintang Kedjora (Bandung-Bukittinggi), JATRA (Padang-Jambi), Family Raya (Padang-Jambi), Yoanda Prima (Padang-Palembang)


Provinsi & Kota / daerah yang dilewati Jalur ini:

1. Provinsi Lampung (Bakauheni, Kalianda,Tarahan, Panjang, Tj. Karang, Teluk Betung, Rajabasa, Branti, Metro, Bandar Jaya, Menggala, Tulang Bawang, Mesuji).
2. Provinsi Sumatera Selatan (Pematang Panggang, Teluk Gelam, Tanjung Raja, Kayu Agung, Indralaya (Ogan Komering Ilir),Palembang, sungai lilin, Bayung lincir).
3. Provinsi Jambi (Simpang Tempino, Jambi, Muara Bulian, Muara Tembesi, Muara Tebo, Muara Bungo)
4. Provinsi Sumatera Barat (Sungai Rumbai, Gn.Medan, Sungai Dareh, Kiliranjao, Muara Sijunjung, Muara Kalaban, Solok, Padang).

(Sumber : https://kaahil.wordpress.com/2012/12/22/5125/)

Seperti rencana kami bermalam di Palembang sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Pukul 07.30 pagi kami meninggalkan Palembang. Hari itu saya ngga puasa, musafir maklum yaaaa, hahahaha. Perjalanan lancar tanpa kendala berarti. Cuma ya jauh aja, hahaha. Kami tiba di Batusangkar sekitar pukul 24.00 setelah menempuh 45 jam perjalanan. Woooowww.. *pijit pinggang betis punggung* :))



Lebaran Di Kampung Halaman

H-2 lebaran saya, suami dan naya menyempatkan diri jalan-jalan ke Padang. Saya memang belum pernah benar-benar ke Padang selain ke bandara, hahaha. Saya ke jembatan Siti Nurbaya. Saya pikir kayak gimana gitu ya, ternyata ya jembatan aja, hihi. Lalu saya ke pantai Padang. Karena sedang berpuasa, panasnya pantai saat itu bikin kami (baca saya dan suami) ngga betah berlama-lama. Naya mah malah nangis-nangis ngga mau pulang, hahaha. Merajuk minta turun ke pantai sementara mama papa ngga siap baju ganti, lagipula mataharinya ada 9. *cemen*


Lalu kami sempatkan mampir ke Christine Hakim untuk membeli oleh-oleh di Jalan Adinegoro Kecamatan Koto Tangah, Padang. Karena waktu yang sempit kalo ngga saat itu, susah mesti cari oleh-oleh. Makan malamnya kami mampir di RM. Pak Datuk di Padang Panjang. Kalo kamu sedang travelling ke Padang dan sekitar kamu bisa singgah ke sini, recommended dan enyaaak..

Jembatan Siti Nurbaya


Pantai Padang



H-1 saya bantu mama papa masak. Yang dimasak antara lain anyang, opor ayam, sayur buncis, gulai kambing, gulai rebung. Banyak yaaaa, hohoho. Dan santan semua dong dong dong. Bhay kolesterol dululah yaaaa.. hahaha. :)) Ada yang bikin saya dan suami kecewa sebenarnya. Entah kenapa kami ngga mendengar takbir malam itu. Sama sekali ngga ada, entah apa penyebabnya. Syahdunya takbir menjelang Idul Fitri ngga kami rasakan, ihiks. Dugaan kami saat itu mungkin karena Jokowi berlebaran di Padang, jadi para pengurus surau memusatkan takbir bersama presiden.

Daun Ketumbar

H+1,2 Shalat Idul Fitri saya dan keluarga di surat belakang rumah. Ada yang berbeda caranya. Jadi, sebelum shalat orang yang dituakan akan memimpin proses infaq. Nah ada ibu dan bapak yang bertugas mengedarkan kotak infaq. Karena saya ngga tau, saya langsung masukan uang yang saya bawa sekaligus. Tapi ternyata mereka akan berkeliling beberapa kali sambil mendoakan yang dimaksud oleh pemberi infaq. Unik ya, hihihi. Silaturahmi ke beberapa rumah saudara, mendoa (berdoa bersama), update cerita dan tentu makan bersama, hehehe. Kakek nenek dari pihak suami sudah meninggal, jadi memang agendanya silaturahmi ke sepupu, paman atau kerabat dekat mama papa. Sayangnya kami memang ngga tamasya kemana-mana. Kebayang macetnya cyiiin.. Hanya mengantar mama papa ke Padang Panjang untuk mengambil pesanan rendang dan disempatkan mampir ke Sate Mak Syukur. Enyaaak..

Keluarga Latief
Makanan Khas Lebaran keluarga.

Kakak Aira dan Naya




Idul Fitri OOTD







1635 Km Perjalanan Pulang Via Jalur Lintas Tengah

H+3 kami sudah mengarah ke Jakarta. Kali ini jalur yang kami ambil adalah Jalur Lintas Tengah. Jaraknya memang lebih jauh, tapi konon trayeknya lebih mudah dan jalannya lebih mulus. Bismillah aja deh saat itu. Papa juga agak khawatir kalo kejadian ban robek terulang. Alhamdulillah lancar dan kali ini kami bermalam di Lahat. Agak lucu sih, saat itu sudah malam sekitar pukul 21.30. Diantara hutan dan kebun kelapa sawit ada Hotel Grand Zuri! Amazing, hahaha.

Tapi gantian ada kejadian yang menimpa mobil kami. Di daerah mana saya lupa, mobil kami "mencium" motor yang berhenti mendadak. Motornya hilang keseimbangan kemudian terjatuh. Motor itu si yang salah, tapi ya seperti yang kita tau ada semacam unwritten rule soal kejadian kayak gini, mobil pasti salah. Padahal mobil saya saat itu kecepatannya hanya 10-15 km, karena memang melewati tanjakan yang agak curam. Tapi saat itu suami kasihan melihat ada anak balita usia setahun di motor itu, jadilah kami memberi uang damai. Hmm, what can I say about my return trip? Jalannya memang lebih bagus, lebih luruuusss. Tapi lebih susah cari rumah makan. Mungkin karena masih suasana lebaran, jadi masih banyak restoran yang tutup. Untungnya mama bawa bekal rendang, jadi lumayan ketolong deh yaaa, hahaha. Macet hanya kami temui di daerah Bandar Jaya karena pertemuan kdua jalur mudik lintas Sumatera. Dan kali ini kami mencoba membeli tiket kapal bukan di pelabuhan, tapi di titik yang ditunjuk ASDP yaitu Hotel Kalianda. Entah karena itu atau bukan, proses menunggu kapal ngga selama ketika pergi, hanya sekitar 2,5 jam. Dan minggu pagi kami sudah sampai di Jakarta lagi. Total perjalanan adalah 36 jam. What a journey!

Sebelum bertolak ke Jakarta


Memasuki Pelabuhan Bakaheuni

Rute lengkap : 

Jakarta-Merak =120 km, Bakauheni-Kalianda = 24 km, Kalianda-Bandar Lampung = 65 km, Bandar Lampung-Terbanggi Besar = 71 km, Terbanggi Besar-Kotabumi = 48 km, Kotabumi-Baturaja = 183 km, Baturaja-Tanjung enim = 135 km, Tanjung enim-Muara enim = 18 km, Muara enim-Lahat = 47 km, Lahat-Lubuk Linggau = 157 km, Lubuk Linggau-Sarolangun = 220 km, Sarolangun-Bangko = 150 km, Bangko-Muara Bungo = 115 km, Muara Bungo-Gn. Medan = 90 km, Gn. Medan-Kiliranjao-Solok = 138 km, Solok-Padang = 54 km. Total Jarak Tempuh = 1635 km.

Bus AKAP yang melewati Lintas ini dari: ANS, NPM, Transport, Family Raya Ceria(Pekanbaru-Jogya), Gumarang, ALS(Medan via Pekanbaru), PM.TOH(Medan via Pekanbaru & via Bukittingi), Medan Jaya (Medan via Pekabaru), Putra Rafflesia (Padang-Bengkulu) Bengkulu Kito(Pekanbaru-Bengkulu), SAN(Bengkulu-Pekanbaru, Bukittinggi-Bengkulu), SAMPAGUL(Medan via Bukittinggi), Rhema Abadi(Pekanbaru-Solo-Madiun), Handoyo (Dumai-pekanbaru-solo-madiun) & seluruh Bis tujuan Pekanbaru, Medan via Lintas tengah

Provinsi & Kota / daerah yang dilewati Jalur ini:

1. Provinsi Lampung (Bakauheni, Kalianda,Tarahan, Panjang, Tj. Karang, Teluk Betung, Rajabasa, Branti, Metro, Bandar Jaya, Terbanggi Besar, Kotabumi, Bukit Kemuning)
2. Provinsi Sumatera Selatan (Martapura, Batu Raja, Tanjung Enim, Muara Enim, Lahat, Lubuk LInggau)
3. Provinsi Jambi (Sarolangun, Bangko, Muara Bungo)
4. Provinsi Sumatera Barat (Sungai Rumbai, Gn.Medan, Sungai Dareh, Kiliranjao, Muara Sijunjung, Muara Kalaban, Solok, Padang).

(Sumber : https://kaahil.wordpress.com/2012/12/22/5125/)


Eh ngga kerasa panjang banget cerita saya, hahaha. Semoga sampai akhir ya bacanyaaaa karena saya mau infoin acara super cool nih. Diaryhijaber akan menyelenggarakan acara Hari Hijaber Nasional, dengan detail sebagai berikut :

Waktu : 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
Tempat : Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat
Detailnya ada di poster berikut yaaa.. See you there, inshaa Allah.




Love you life. :D 

Wassalamualaikum wr wb.

13 comments:

  1. Masya allah jauh banget Mba :D wah bedanya bisa sampai 600%? :o btw, harga HT nya ngga semahal tiket pesaeat kan mba?

    ReplyDelete
  2. Mudik itu memang panjang & melelahkan, tapi selalu ada cerita di dalamnya yaa.. itu serunya mudik! Hihihihi

    ReplyDelete
  3. Ya allah, kakaa... eike bacanya ampe miris gituh. Merasakan lamanya perjalanan mudik. Etapi.... jadi banyak cerita dan pengalaman kan. Terlebih Naya jadi punya cerita seru mudik yang bisa dia share sama temen-temennya. hehehhe

    ReplyDelete
  4. Hana : iya han, tiket pesawat bertiga aja udah 10jutaan, hahaha. Kemarin bensin cuma 2 jutaan. HT mah cuma 1,3 juta han, hihihi.

    Indah : iya ada cerita dan pegelnya indaaaah.. >_<

    Aie : iya nanti naya bisa cerita ke temen-temennya, hahaha. Tiap lewat hujan, ma gajaaah. Lewatin jembatan, mah sungai maa.. :))

    ReplyDelete
  5. Aku bacanya ngos-ngosan Lisna hahahahah lelah banget ya berasa.. Tapi seru deh.. Aku perjalan jauh begini pernahnya ke Bali aja dan super lelah, kalo lintas Sumatera belum, semoga ada kesempatan seru ya kayak Lisna :D

    ReplyDelete
  6. muantabs mama naya, akhirnya mudik juga walau perjalanan selama 81 jam. lelah tapi bahagia ya mam #berkacakaca

    ReplyDelete
  7. Lelah tapi hepi yaaa... Kebayang tuh yg nyetir, balik jakarta harus pijet, spa, sauna, dll biar ngilangin capek hihihi. Itu daun ketumbar naksiiir banget, masa musti ke sono buat dapetin itu ya?? :D

    ReplyDelete
  8. Luna : saking panjangnya ni tulisan ya lunaaa, hahaha. Aamiin semoga bisa ikutan juga lintas sumatera yaaa..
    Anggi : lelah dan gempor neeeng, hahaha. Pencapaian abad ini deh buat aku, hahaha.
    Sandra : untungnya matic can, kalo engga mah udah crangky pasti tuh suami, hahaha. Iya bunga dan buah basahnya sandraa.. Kalo daun mah ada di carrefour, hihihi. Kalo yang ada di foto mah susah nyarinya.

    ReplyDelete
  9. Yeay! akhirnya kelar juga yah baca postingan panjang hasil perjalanan nan jauh di mato.

    Seru ih bacanya, asik yah banyak pengalaman dan petualangannya. Jauh banget sik itu, mirip2 lah kalau aku mudik ke malang, bedanya banyak alfamart, indomaret, dan resto bertebaran. hueheheheheh.


    Btw kok keren sih ala-ala film pakai HT gitu? Hits banget sih qaqa. Apalagi ya komennya, lupa nih gegara udh komen tapi malah ga ke post *curcol*

    ditunggu cerita2 hits selanjutnya, sister. Honeymoon tour Singapore, maybe? :p

    ReplyDelete
  10. ku tak sanggup ngitung jaraknya kakaaaa, hahaha x)
    maklum sunda asli paling jauh mudik darat cuma sampai garut aja..
    tapi Alhamdulillah aman sentosa ya sampai kembali ke jakarta :)
    seru baca ceritanya sampe beres dan baru tau loh kalau di sumbar ternyata gak ada Alf*mart atau Ind*mart...

    ReplyDelete
  11. Ifa : kalo otw ke Sumbar masih ada si, tapi selang seling sama hutan, hahaha. Kalo aku pakai HT inget waktu jaman kerja jadi creative TV, kalo shooting pasti pakai HT, hahaha.

    Ingga : Nanti klo dapat suami berkampung jauh bisa ko ngerasain, hihihi. Aku malah ga pernah kemana2, kampungku 10 menit sampai, hahaha.

    ReplyDelete
  12. mudik ga akan sanggup kaya si mbanya, biasa muterin karawang doang haha :X
    mungkin 3x pijet baru bener badannya ya mba

    ReplyDelete
  13. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Memang kalau mudik menggunakan udara lebih mahal dan itu yang membuat kami mudik mengunakan kendaraan pribadi. Selain murah kami juga bisa menikmati petualangan disepanjang perjalan menuju dan kembali dari kampung. Banyak cerita yang kami dapat dari beberapa kali mudik ke Sumatera Barat menggunakan jalur darat. Kalau baca dari preparationnya itu mobil penuh banget ya mbak, sampe cone orange juga dibawa.
    Sebenarnya kalau disumatera bawa manual lebih baik karena pas overtaking bus atau truk lebih responsif. Kalau mau mudik lagi barengan yah hehehehe. Ini cerita kami mudik kemaren https://goo.gl/9i29VQ

    ReplyDelete