May 19, 2015

Singgah di Pekalongan

Assalammu'alaikum wr wb.

Jumpa lagi dalam postingan berbau trip dan travelling. Sesungguhnya ada tugas kantor si di Pekalongan, jadi bukan karena ingin plesiran, hehehe. Ini kali pertama saya pergi ke Pekalongan. Thanks to mak Primastuti Satrianto yang menuliskan pengalamannya ke Pekalongan di blog post ini. Jadi sedikit ada gambaran soal kota Pekalongan ini.


Persiapan

Selain persiapan soal kerjaan di kota ini nantinya, saya mulai hunting tiket. Saya pergi dari tanggal 2-4 Mei 2015. Setelah tanya-tanya, yang paling enak kalo ke Pekalongan adalah dengan menggunakan kereta api. Tadinya, suami dan anak mau saya boyong. Tapi suami ngga bisa ikutan karena ada meeting yang ngga bisa ditunda. Jadilah saya sendiri dan akan bertemu teman kantor di sana. Cara pesan tiket kereta api sekarang lebih mudah dan praktis. Semua bisa dilakukan via online.

Sila klik link ini

Harga tiket eksekutif bervariasi dari 280rb-380rb. Dan bisa terlihat jumlah kursi kosong yang tersedia sisa berapa. Hanya saja jika mau pesan sebaiknya pastikan jadwalkan sudah final. Karena jika ada pergantian jadwal, harus datang langsung ke stasiun besar saja, ngga bisa di tiap stasiun. Selain itu jika ingin di sisi yang dekat jendela, sebaiknya pesan di seat bagian A ya. Karena saya dipesankan kantor, jadi yang diberikan adalah tanda bukti bayar. Jadi si tanda bukti bayar ini harus ditukarkan dengan tiket paling lambat 1 jam sebelum keberangkatan. Karena ngga sempat-sempat ya pulang kantor, makanya saya pilih ambil tiket saat mau berangkat aja.

Bagaimana dengan hotel? Karena ini perjalanan dinas, maka hotel pun dipesankan oleh perusahaan. Kebetulan yang bisa pakai harga corporate dan banyak direkomendasikan adalah Hotel Horison Pekalongan. Di agoda juga ada penawaran bagus untuk hotel ini, jadi bisa coba klik ke Agoda. Walaupun sempat penasaran juga sama hotel Namira syariah pilihan mak Primastuti Satrianto. Kalo soal transportasi di Pekalongan, sayangnya saya tidak pesan untuk perjalanan kali ini.


Pekalongan 2-4 Mei 2015

Sabtu, 2 Mei 2015. Perjalanan ke Pekalongan kurang lebih makan waktu hingga 5 jam. Jadwal saya berangkat adalah 07.00-11.38 menggunakan Argo Muria. Karena belum print tiket, saya jadilah berjaga-jaga berangkat pagi-pagi sekali. Maklum sudah lama ngga naik kereta api, hehehe. Jadilah saya sampai Stasiun Gambir jam 5.30 pagi, pagi ajaaaah.. Karena belum tau ya, saya langsung menuju ke loket untuk tukar tiket, ternyata oh ternyata sudah ada beberapa mesin berjajar untuk print tiket mandiri. Woooww.. *norak* Penampakannya seperti di bawah ini.

Link Sumber
Praktis dan cepat. Kondisi stasiun pun jauh lebih nyaman dan bagus. Banyak restoran dan tempat ngopi buat para calong penumpang yang datang kecepetan seperti saya. :'D Dasar saya kebiasaan naik pesawat, 1,5 jam sebelum waktu keberangkatan saya sudah setor muka ke petugas pemeriksa tiket untuk masuk ke area peron. Dan bapaknya bilang belum boleh masuk karena keberangkatannya masih lama, hahahaha. Sekitar 40 menit kemudian baru boleh masuk dan diwanti-wanti agar tidak salah jalur. Tau aja bapak ini saya suka hilang arah, hehehe. Di dalam area peron juga ada kursi tunggu dan kios yang menjual makanan dan koran/majalah.

Kesan pertama waktu duduk di kereta, nyaman walaupun gerbongnya memang terlihat cukup tua oldies, hehehe. AC berasa sejuk dan disediakan bantal kecil. Lumayan baguslah. Yang saya suka lagi adalah berangkatnya tepat waktu, jam 7 pagi teng kereta sudah berangkat. Kursi juga bisa dibuat agak rebah dan bisa diputar saling berhadapan. Cocok untuk yang pergi dalam grup.


Pemandangan dalam gerbong kereta Argo Muria
Pemandangan sepanjang perjalanan
Sampai di Pekalongan sekitar pukul 11.50, cocoklah dengan jadwal. Barulah di stasiun saya bertemu teman kantor yang akan dinas bareng. Ada yang perlu teman-teman ingat ni. Setelah turun dari kereta ada baiknya selain cek di Google maps soal keberadaan hotel, tapi tanya juga petugas di stasiun. Karena eh karena saya dan teman waktu itu agak terkecoh *tsaaah bahasanya* soal ini. Teman sebenarnya sudah cek di Google Maps jalan dari stasiun Pekalongan ke Hotel Horison. Tapi entah kenapa ya si Google Maps ini memberikan jalur yang muter-muter masuk jalan kecil pula. Teman saya pikir dekat, tapi sepertinya cukup jauh. Bingung kan?! hehehe. Akhirnya langsung tawar menawar taksi. Taksi di Jawa Tengah sebagian besar tidak menggunakan argo, jadi ya tawar menawar manual begitulah caranya. Si bapak sopir mematok harga 50rb, dia bilang ngga bisa turun. Teman sudah menawar 25rb, tapi bapaknya sok-sok bilang,"Gimana ya, kalo dalam kota gini saya bingung mau nurunin harga," Tapi dia tetep ngga mau 25rb, ngok. Akhirnya kita deal dengan harga 40rb. Naiklah kami ke dalam taksi, kemudian taksi jalan. Dan keluar stasiun, belok sedikit, menyeberang, dan sampailah kita di Hotel Horison. Sumpaaaah, palingan cuma 50 meter aja dari stasiun, kepleset juga sampe, hahahaha. Kalo kata anak jaman sekarang, KZL aka KeZeL, hahaha. :))

Berhubung belum bisa check in juga, saya memutuskan untuk naik becak ke Garang Asem H. Masduki untuk makan siang. Katanya nasi megono khas Pekalongan-nya enak. Yuklah ke arah alun-alun naik becak dengan ongkos 20rb. Nah jadi keingetan bapak taksi tadi deh, hahaha. Karena ngga tega, saya minta bapaknya tunggu aja dan dilebihin ongkosnya. Masa iya taksi aja segitu, trus si bapak becak yang genjot cuma 20rb, jauh lagi, huhuhu. Anyway, nasi megono plus garang asamnya cukup enak. Tadinya udah khawatir rasanya akan manis seperti masakan Jogja. Tapi ternyata lebih dominan gurih. So, yang ngga suka masakan manis, amaaaaan..hehehe. Karena saat itu udah lapar sangat ya cyin, jadilah khilaf ngga foto. Jadi, pinjam foto dari blogger kuliner handal berikut ini aja deh.

Link Sumber
Selesai makan siang, kembali ke hotel. Dan, ada yang lucu pas saya tiba di hotel saat itu. Semuanya anak sekolah. Lah, saya pikir lagi pada magang, ternyata lagi memperingati Hari Pendidikan Nasional, makanya semua karyawan hotel menggunakan seragam sekolah. Pantesan ko banyak anak sekolah bangkotan yak, hahaha. Overall, kamar di Hotel Horison cukup bagus. Staf hotelnya juga ramah. Menu sarapan cukup variatif dan cukup enak. Recommended.

Nah ini dia karyawan hotel dengan seragam sekolah
Executive King
Meja kerja & restroom
Malam harinya jadwal saya hanya meeting dengan vendor untuk persiapan event, makan malam di warung makan biasa, dan cek venue di Jln Mataram, depan DPRD Pekalongan.

Minggu, 3 Mei 2015. Dari subuh sudah persiapan untuk event perusahaan di Jln. Mataram, dekat DPRD Pekalongan. Acaranya sendiri sampai siang. Dan setelah event lanjut lagi untuk market visit ke beberapa toko dan customer. Eventnya apa? Kami buka booth untuk program penukaran stiker berhadiah langsung. Ada juga games untuk anak-anak dan product demo. Beruntung saat itu pemerintah setempat sedang membuat video untuk promosi campaign kota Pekalongan sebagai kota Batik dunia ya kalo ngga salah. Jadi kami dapat free publikasi deh, hehehe. Dasar emak-emak doyan yang gratisan gini nih. >_<

Jadi talent dadakan :))
Pardon my kucel face, hahahaha..
Selesai acara dan sebelum lanjut market visit, saya makan siang di RM Panderasa namanya. Ini juga hasil nyontek dari blog kulinernya Mas Banyumurti di link ini. Rasanya? Enaaaaak.. Ayamnya besaaar, bumbunya meresap, pedas berempah. Konon katanya ini adalah resep turun menurun dan jadimenu andalan rumah makan ini. RM Panderasa ini ada di Jalan Imam Bonjol atau sebelah selatan rambu lalu lintas Simpang Lima. Harganya terjangkau banget. Saat itu kami bertujuh menghabiskan 7 porsi makanan utama, menu sayur, kerupuk, berbagai macam minuman dan hanya perlu membayar 250ribuan saja. Oya, sebaiknya datang ke sini saat makan siang atau sebelum jam 7 malam supaya ngga kehabisan, hehehe.

Ayam Karang Minanci
Senin, 4 Mei 2015. Agenda di hari ini hanya market visit ke satu toko dan selebihnya beli oleh-oleh. Sebenarnya saya ngga ada rencana untuk beli apa-apa untuk diri sendiri. Tapiiii, suami udah pesan, "Sayang, aku mau batik warna hitam dengan ornamen gold. Atau dasarnya putih dengan ornamen hitam." Lalu si mamih,"Na, katanya di sana terkenal tauconya lho. Beliin tauco yah." Hahaha.. Ya begitulah ya, kalo pergi keluar kota yang kebeli kebanyakan adalah pesanan dan oleh-oleh buat keluarga dan teman. Apakah di luar sana juga mengalami hal yang sama? Hehehe.

Karena saya ngga jago menawar, saya pilih untuk pergi ke IBC atau biasa disingkat International Batik Center. Jadi semacam ITC gitu, ngga terlalu banyak tokonya si tapi bagus-bagus kualitasnya. Sebenarnya ada beberapa pilihan kampung atau desa batik. Tapi berhubung saya bukan pembeli/pemburu batik yang serius yang cari batik dengan kriteria tertentu, jadi di IBC atau pasar aja cukup. =D Saya mah yang penting bagus bahan, model dan motifnya, hahaha. Di IBC aja saya menghabiskan 1 jam lebih di satu toko, saking bingungnya, hahahaha. Oya, harganya lebih murah daripada batik dengan spek yang sama jika kita beli di Jakarta. Buat yang ngga bisa tawar menawar ngga usah khawatir karena harganya ngga bisa turun banyak. Saya juga sempat mampir ke Pasar Sentono, tapi di sana juga hanya bisa turun 5rb saja. Kualitas pun menurut saya lebih bagus di IBC ya. Atau kalo teman-teman jago dalam hal perbatikan bisa lebih bagus dapat dealnya.

Kemeja pilihan suami 1
Kemeja pilihan suami 2
Taplak meja titipan teman
Setelah batik, saya cari titipan mamih yaitu tauco. Ternyata susah ya cari toko yang menjual penganan khas Pekalongan. Setelah tanya rekan sales di sana, ada satu merek yang direkomendasi, Nama tokonya adalah Toko Kecap dan Tauco Pulau Jawa yang ada di Jalan Salak. meluncurlah ke sana, dan memang toko tersebut paling terkenal kualitasnya sejak dulu. Sayangnya saya malah ngga sempat makan soto tauto khas Pekalongan. Yak, lagi-lagi mengingat apa kata suami, biar ada alasan balik lagi, hohoho.

Perjalanan pulang saya juga menggunakan kereta api. Berangkat tepat pukul 17.18 sore. Hanya saja ada kendala teknis yang menyebabkan lokomotif harus diperbaiki di stasiun Terisi. Jadilah jadwal molor sampai lebih dari 2,5 jam. Seharusnya sampai Jakarta jam 10 malam jadi molor sampai hampir jam 1 malam. Bagusnya si, pihak kereta api rutin memberi info soal update perbaikan. Berapa lama waktu yang diperlukan, status lokomotif pengganti sudah sampai mana dan berapa lama lagi sampai juga diberi tahu. Yang agak bikin kecewa si cuma ngga ada menu indomie rebus/goreng si dalam menu restoran kereta api, hahahaha. *penggemarindomie*

See you next time yaaaa..

Love you, life. :D


Wassalammu'alaikum wr wb.

8 comments:

  1. Waw Ke Pekalongan ya mba mo beli batik rada murah lagi ke pasar Setono mba, klo singgah di pekalongan lagi jangan lupa beli keripik tahu n Apem Kesesi khas pekalongan, Lam kenal ya mba dari perantau di Pekalongan ;)

    ReplyDelete
  2. Hai mba. Iya aku juga mampir ke sana, tapi aku malah lebih sreg di IBC, hehehe. Keripik tahu dapet tuh mba di toko Pulau Jawa itu, klo apem ngga nemu. Sip makasih infonya mba. Salam kenal juga yaa.. :D

    ReplyDelete
  3. Apem kesesinya adanya ditempat aku mba n paling" klo mbanya mampi or lewat pasar Comal dsitu juga ada tp tetep made in Kesesi tepatnya dukuh Bantul :)

    ReplyDelete
  4. Ahaa, nanti klo aku balik lagi ke sana aku ubek2 deh buat cari apemnya, hihihi. Makasih mbaaa.. :D

    ReplyDelete
  5. destinasi kita minggu ini sama ya mb lisna... kmrn belum nyoba garang asem H. Masduki, penasaran kl ke pekalongan lagi.. *_*

    ReplyDelete
  6. Coba ketemu kita, hihihi. Iya mba, biar ada alasan untuk balik lagi. :D

    ReplyDelete
  7. Ya ampun lucunyaaa, pada pake seragam sekolah gitu pelayannya. Hihii. Kreatif nih hotelnyaaa. Makasi infonya ya Maaaak

    ReplyDelete
  8. Kulinernya menggugah selera banget.

    ReplyDelete