December 18, 2015

Bulan Terbelah Di Langit Amerika - Apakah Dunia Akan Lebih Baik Tanpa Islam?

Assalamu'alaikum wr wb,

Ada yang weekend ini atau sepulang kerja/kuliah hari ini berencana nonton film? Masih bingung menentukan mau nonton apa? Pas banget nih, ada satu lagi film nasional berkualitas yang tayang mulai hari ini, 17 Desember 2015, judulnya Bulan Terbelah di Langit Amerika. Judulnya bikin penasaran kaaaan?! hehehe. Nah, alhamdulillah saya dapat kesempatan nonton pemutaran perdana film ini berkat undangan dari Indonesian Hijab Blogger pada hari Selasa, 15 Desember 2015 di XXI Episentrum Kuningan. Selain dapat kesempatan nonton film yang diangkat dari novel karya Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendr ini, saya juga bisa bersilaturahim dengan teman-teman Indonesian Hijab Blogger yang menjadi undangan. Rezeki anak sholehah, hihihi.

Kami yang beruntung, hihihi.. 

Sebelum menonton film ini, saya sempat menduga-duga seperti apa kira-kira filmnya. Mengingat film ini diangkat dari novel karya pengarang yang sama dengan 99 Cahaya di Langit Eropa, saya pikir pasti akan sama bagusnya. Selain cerita yang menarik dan ngena banget, biasanya nanti akan ada suguhan sinematografi yang ciamik juga nih. Selain itu sutradaranya Rizal Mantovani yang sudah tak perlu diragukan lagi. Oke, I was so excited. Dan ada pertanyaan yang menjadi benang merah dalam film ini, pertanyaan yang sangat dalam; Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? *jleb* So here it goes...

Bulan Terbelah Di Langit Amerika

All Cast
Cerita dibuka dengan penugasan Hanum, seorang jurnalis Indonesia yang menetap di Wina, untuk mewawancarai narasumber yang keluarganya menjadi korban pada kejadian WTC 9/11 di New York. Tugasnya kali itu bukan sembarang tugas, karena artikel yang dia harus tuliskan adalah jawaban dari satu pertanyaan yang sangat kritis, Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? Islam yang merupakan agama yang dia anut dan dia banggakan selama ini.

Di tempat lain, suami Hanum, Rangga diberikan mandat untuk mewawancara seorang miliuner yang terkenal misterius, Philipus Brown. Tugas wawancara yang diberikan ini terdengar sangat menantang karena berhasil atau tidaknya akan memberikan pengaruh besar pada pendidikan PhD yang sedang dijalani Rangga. Sedangkan Philipus Brown ini boleh dibilang jarang sekali tersentuh media, bahkan untuk wawancara secara pribadi. Ada suatu kejadian dalam hidupnya yang membuat dirinya berubah 360 derajat, dari miliuner yang mampu menghalalkan segala cara hingga berubah menjadi filantropi yang sangat dermawan dan rendah hati.

Kebetulan yang sangat menyenangkan, kesamaan kota New York sebagai tujuan penugasan mereka membuat Hanum dan Rangga bisa pergi bersama untuk menunaikan misi mereka masing-masing. Lika-liku Hanum untuk bertemu dengan Julia Collins dan putrinya Sarah Hussein tak lepas dari kejadian-kejadian yang menjadikannya sasaran diskriminasi dari orang-orang yang memiliki pandangan yang salah akan Islam. Termasuk pertemuan dengan Michael Jones, warga New York yang membenci Islam karena menganggap teror Islamlah yang membunuh istrinya. Diskriminasi dan kebencian itulah yang membuat Julia Collins kehilangan rasa bangga akan agamanya, meski ia sangat mencintai Islam. Tak hanya itu, Julia bahkan terpaksa meyakinkan dirinya bahwa mungkin memang suaminya bagian dari pelaku terorisme yang meruntuhkan WTC saat itu. Di lain sisi, Sarah hanya mengingat bahwa ayahnya adalah seseorang yang penyayang dan lembut serta tidak mungkin melakukan segala bentuk teror yang kejam.



Sementara Rangga dan Stefan (sahabat Rangga) berusaha untuk bisa ikut serta dalam kuliah umum Philipus Brown dan membuat janji temu. Saking sulitnya, Brown hanya akan memberikan izin akses ke dalam kelasnya jika Rangga mempunyai pertanyaan yang berbeda dan menarik bagi Brown. Dan terlontarlah pertanyaan yang sama, Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? Brown kemudian menerima pertanyaan tersebut dan mengizinkan Rangga dan Stefan mengikuti kelasnya.

Dalam pencarian jawaban tersebut, pertemuan, konflik dan kesalahpahaman antara pihak-pihak yang saling berseberangan terjalin dalam cerita yang sarat makna dan keharuan. Julia Collins, Sarah Hussein, Ibrahim Hussein, Philipus Brown dan Michael Jones saling memiliki benang merah yang saling terkoneksi satu sama lain. Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, nilai Islam yang salah dipersepsikan oleh banyak pihak, secara disadari dan tidak disadari terangkai menjadi jawaban bagi pertanyaan, Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?




Selain pesan yang menggarisbawahi Islam sebagai agama yang cinta damai, penuh kasih dan kebaikan, terselip juga pesan lain yang tak kalah pentingnya. Misalnya adalah soal hubungan dan komitmen suami istri, bagaimana suami dan istri saling menghargai dan menjaga satu sama lain, serta bagaimana keegoisan tidak menang dalam perbedaan pendapat yang terjadi. Oya satu hal lagi, jangan khawatir bosan atau takut ceritanya terlalu berat karena banyak selipan candaan ringan, tingkah kocak dan percakapan yang bikin kamu senyum dan bahkan tertawa sendiri, hehehe. Nilainya 8 dari 10. Jadi, jadwalkan nonton film ini dan kamu akan makin bangga jadi seorang muslim.

Bonus foto sama Acha :D

Itulah ulasan film Bulan Terbelah Di Langit Amerika versi saya. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, selain nonton saya jadi bertemu beberapa blogger IHB dan juga TimIHB seperti Nia, Mba Witha dan Mba Ayu. Seru dan rameee, tapi saking ramenya sampai ngga bisa ngobrol, hehehe. Semoga kedepannya bisa silaturahim lagi yaaa.. Aamiin ya rabbal alamin.

photo by Nia

Love you, life. :D

Wassalamu'alaikum wr wb.

13 comments:

  1. Iya susah buat ngomong ya Mbaa.. huhu. Smg segera bersua lagi. Keren ih pulanv acara langsung ngepost gini Mba :D

    ReplyDelete
  2. Ah iya ada pesan ttg hub suami istri dan jangan egois :) makasih sharingnya :) salam kenal ya mba :)

    ReplyDelete
  3. Nia : hooh rame bener niii.. Aamiin semoga bisa segera bersua lagi yaaa.. Biar ngga jauh2 amat dari dealine niii, mata udah 5 watt padahal, ahahaha.. xD

    Hana : Iya beberapa adegan jadi berasa ngaca, soale kadang aku ngeyel juga, hihihi. Sama-sama mba hanaa.. Terima kasih sudah mampir.

    ReplyDelete
  4. Iyaa... rame kali, smp mau jalan aja susah yah. Bner Lisna, ada selipan konflik suami istri jg d film ini..

    ReplyDelete
  5. Jade ayu : iya mba, crowded amatan. Iyes konfliknya lumayan bisa jadi pelajaran, hehehe.

    ReplyDelete
  6. pengen banget nonton film ini Mbak, tapi sayang di daerah saya gak ada bioskop, hiks :(
    terpaksa tungguin DVDnya ajah..

    ReplyDelete
  7. Irawati : iya mbaa, ga apaa. Sabar dikit, nanti yang penting bisa menikmati juga. :D

    ReplyDelete
  8. Mbak Lisna aku juga belum meninggalkan jejak yaa, padahal udah stalking wkwk :D

    ReplyDelete
  9. Abby : sama aja kita yaaa, hahaha..

    ReplyDelete
  10. dari awal cuplikanya pilemnya. aku juga penasaran sama "apakah dunia akan lebih baik tanpa islam"

    Tapi sayang bgt q sampai sekarang belum sempat nonton (tinggal di kota terpencil) cuma nungguin turun dvd nya 😂😂

    ReplyDelete
  11. Ineke : kalo udah ada DVDnya jangan lupa langsung cus beli yaaaa.. :D

    ReplyDelete
  12. penasaran pingin nonton filmnya

    ReplyDelete
  13. penasaran pingin nonton

    ReplyDelete