Follow Me @lisna_dwi

Showing posts with label indonesian hijab blogger. Show all posts
Showing posts with label indonesian hijab blogger. Show all posts

December 06, 2016

Review Film Bulan Terbelah Di Langit Amerika 2

December 06, 2016 39 Comments


Assalamu'alaikum wr wb,

Pernah nonton film Bulan Terbelah Di Langit Amerika yang pertama? Yang belum pernah nonton bisa baca review film pertama di tulisan saya berikut ini : Bulan Terbelah Di Langit Amerika - Apakah Dunia Akan Lebih Baik Tanpa Islam? supaya bisa tercerahkan sedikit sebelum nonton film sekuelnya, hehehe. Hari Sabtu, 3 Desember 2016 lalu saya mendapatkan undangan nonton bareng Indonesian Hijab Blogger (IHblogger) di XXI Plaza Indonesia. Saya menonton film Bulan Terbelah Di Langit Amerika yang pertama juga bersama IHBlogger dan ketika ada undangan untuk menonton film Bulan Terbelah Di Langit Amerika 2 saya langsung menyambutnya. So excited!

December 18, 2015

Bulan Terbelah Di Langit Amerika - Apakah Dunia Akan Lebih Baik Tanpa Islam?

December 18, 2015 13 Comments
Assalamu'alaikum wr wb,

Ada yang weekend ini atau sepulang kerja/kuliah hari ini berencana nonton film? Masih bingung menentukan mau nonton apa? Pas banget nih, ada satu lagi film nasional berkualitas yang tayang mulai hari ini, 17 Desember 2015, judulnya Bulan Terbelah di Langit Amerika. Judulnya bikin penasaran kaaaan?! hehehe. Nah, alhamdulillah saya dapat kesempatan nonton pemutaran perdana film ini berkat undangan dari Indonesian Hijab Blogger pada hari Selasa, 15 Desember 2015 di XXI Episentrum Kuningan. Selain dapat kesempatan nonton film yang diangkat dari novel karya Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendr ini, saya juga bisa bersilaturahim dengan teman-teman Indonesian Hijab Blogger yang menjadi undangan. Rezeki anak sholehah, hihihi.

Kami yang beruntung, hihihi.. 

Sebelum menonton film ini, saya sempat menduga-duga seperti apa kira-kira filmnya. Mengingat film ini diangkat dari novel karya pengarang yang sama dengan 99 Cahaya di Langit Eropa, saya pikir pasti akan sama bagusnya. Selain cerita yang menarik dan ngena banget, biasanya nanti akan ada suguhan sinematografi yang ciamik juga nih. Selain itu sutradaranya Rizal Mantovani yang sudah tak perlu diragukan lagi. Oke, I was so excited. Dan ada pertanyaan yang menjadi benang merah dalam film ini, pertanyaan yang sangat dalam; Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? *jleb* So here it goes...

Bulan Terbelah Di Langit Amerika

All Cast
Cerita dibuka dengan penugasan Hanum, seorang jurnalis Indonesia yang menetap di Wina, untuk mewawancarai narasumber yang keluarganya menjadi korban pada kejadian WTC 9/11 di New York. Tugasnya kali itu bukan sembarang tugas, karena artikel yang dia harus tuliskan adalah jawaban dari satu pertanyaan yang sangat kritis, Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? Islam yang merupakan agama yang dia anut dan dia banggakan selama ini.

Di tempat lain, suami Hanum, Rangga diberikan mandat untuk mewawancara seorang miliuner yang terkenal misterius, Philipus Brown. Tugas wawancara yang diberikan ini terdengar sangat menantang karena berhasil atau tidaknya akan memberikan pengaruh besar pada pendidikan PhD yang sedang dijalani Rangga. Sedangkan Philipus Brown ini boleh dibilang jarang sekali tersentuh media, bahkan untuk wawancara secara pribadi. Ada suatu kejadian dalam hidupnya yang membuat dirinya berubah 360 derajat, dari miliuner yang mampu menghalalkan segala cara hingga berubah menjadi filantropi yang sangat dermawan dan rendah hati.

Kebetulan yang sangat menyenangkan, kesamaan kota New York sebagai tujuan penugasan mereka membuat Hanum dan Rangga bisa pergi bersama untuk menunaikan misi mereka masing-masing. Lika-liku Hanum untuk bertemu dengan Julia Collins dan putrinya Sarah Hussein tak lepas dari kejadian-kejadian yang menjadikannya sasaran diskriminasi dari orang-orang yang memiliki pandangan yang salah akan Islam. Termasuk pertemuan dengan Michael Jones, warga New York yang membenci Islam karena menganggap teror Islamlah yang membunuh istrinya. Diskriminasi dan kebencian itulah yang membuat Julia Collins kehilangan rasa bangga akan agamanya, meski ia sangat mencintai Islam. Tak hanya itu, Julia bahkan terpaksa meyakinkan dirinya bahwa mungkin memang suaminya bagian dari pelaku terorisme yang meruntuhkan WTC saat itu. Di lain sisi, Sarah hanya mengingat bahwa ayahnya adalah seseorang yang penyayang dan lembut serta tidak mungkin melakukan segala bentuk teror yang kejam.