Follow Me @lisna_dwi

May 11, 2017

I Left A Piece of My Heart in Aceh


Assalamu'alaikum wr wb,
Pernah dengar julukan Serambi Mekah? Sebagian besar teman-teman yang pernah SD sepertinya sih tau kalo nama tersebut adalah gelar untuk Aceh ya, hehehe. Duluuuu, saya hanya sebatas menonton, mendengar atau membaca cerita saja soal Aceh. Untuk travelling sendiri ke sana, belum terpikir sih saat itu. Selain jauh, ngga ada kerabat atau teman akrab juga di sana. Saya tipe travelling dengan koper soale plus agak jiper kalo jadi solois, hahaha. Alhamdulillah kesempatan ke Aceh datang dari pekerjaan saya saat ini. Rejeki anak sholehah, hihihi.


Yang terpikir tentang Aceh apaan sih? Sewaktu saya berencana ke sana, yang pertama kali pop up di pikiran adalah tsunami, kopi dan mie Aceh. Yess, isinya kulineran ya mostly, hahaha. Maklumlah, namanya disambi kerja, jadi ya ngga akan jauh-jauh dari makan. Kan biar setrong kakaaak, hahaha. Tsunami ya jelas karena di akhir 2004 lalu Aceh terkena sapuan gelombang maha dahsyat yang menyebabkan ratusan ribu kematian dan orang hilang. Dan saya penasaran bagaimana mereka bangkit kembali dari kesedihan dan keterpurukan, bagaimana keadaan kota itu sekarang. Karena ketika dulu melihatnya di TV rasanya perih dan sedih sekali, semua hancur, semua porak-poranda. Saya yang nonton aja nangis bombay, gimana saudara kita yang ada di sana.

Cerita yang Menghangatkan dan Bergelas-gelas Sanger

Saya dijemput Pak Helmi, sopir yang akan mengantar saya dan beberapa teman selama perjalanan dinas. Pak Helmi ternyata senang bercerita dan ia adalah seorang nelayan. Jadi waktu saya tanya-tanya soal Sabang, ia dengan fasih menjawab dengan istilah-istilah yang saya tau tapi tidak saya pahami, hahaha. Misalnya kecepatan angin dia pakai satuan knot, untuk jarak dia gunakan mil (saya pahamnya pakai km - LOL), berbagai macam nama angin dan istilah kelautan lain, hahaha. Singkatnya dia bilang kalo sebenarnya di bulan Maret itu memang waktu yang pas buat ke Sabang, karena angin dan arusnya sedang bagus-bagusnya. Yaaa sayangnya kan agenda utamanya kerja kakaaak, nanti diatur lagi deh yaaaa.. :D


Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda

Dalam perjalanan Pak Helmi juga menunjukan pemakaman massal bagi korban tsunami, namanya Kuburan Massal Siron. Pak Helmi bercerita kalo kuburan massal tersebut adalah tempat bersemayam puluhan ribu orang. Dari yang saya baca, ada setidaknya lebih dari 45 ribu orang.
Padahal luas Kuburan Massal Siron hanya 2 hektar saja. Jadi memang rata-rata yang dimakamkan di sana adalah para korban yang sudah tidak dikenali. Korban terdiri dari beragam usia, suku, gender, dan agama. Seringkali ada peziarah dari berbagai kalangan yang datang untuk mendoakan, terutama ketika hari raya Idul Fitri atau saat peringatan tsunami Aceh tanggal 26 Desember.



Kuburan Massal Siron (Credit to merdeka.com)
Museum Tsunami (Credit to Rudi Harnanto)
Tentu saja kopi Aceh sudah terkenal akan rasa dan kenikmatannya. Saya pernah diceritakan teman kantor yang asal Aceh bahwa budaya minum kopi orang Aceh itu sangat kuat. Sepanjang jalan akan ditemui berbagai kedai ngopi, mulai dari yang ala warkop sederhana, sampai kedai kopi yang sudah ditata cukup modern.Sangat normal jika orang Aceh ngopi bergelas-gelas tiap harinya. Teman saya sendiri kadang bisa sampai belasan gelas seharinya, hahaha.  Jadi sudah pasti request pertama saya ke Pak Helmi adalah saya ingin minum kopi Aceh.Beruntung saya menginap di Hotel Pade Aceh yang begitu dekat dengan cabang Kedai Kopi Solong.


Kedai Kopi Solong Aceh


Menu di Kedai Kopi Solong

Di kedai kopi Solong, saya sekalian sarapan. Maklumlah first flight bikin saya lapar,hahaha. Terlebih makanan di pesawat sama sekali tidak membangkitkan selera. Begitu masuk kedai Solong, harum kopi langsung tercium. Heaven! Enak banget kakaaak.. Lalu tanpa basa-basi saya pesan nasi lemak, semacam nasi uduk dengan lauk rendang, perkedel dan tumis teri dan sambal, hahaha. Rasanya enak dan bumbunya berasa.Walaupun di lidah saya masih kurang pedas yah, hehehe. Di meja masih ada berbagai macam jajanan pasar khas Aceh, yang paling saya ingat adalah kue timphan. Ada juga seperti donat kampung, kue seperti puding dan rasanya srikaya, manis dan enak.





Nasi lemak di Kedai Kopi Solong


Aneka kue yang menemani ngopi

Yang paling saya nantikan tentu saja kopinya, yaitu sanger. Kopi sanger sebenarnya seperti kopi susu. Tapi percayalah, ini bukan kopi susu biasa. Harumnya khas, rasanya nikmat dan yang paling penting ngga bikin asam lambung meradang. Saya bisa minum bergelas-gelas sanger dalam sehari and I was still okay, hahaha. Penyajian sanger ini di cangkir bening berukuran tidak terlalu besar. Jadi sambil sarapan bisalah saya teguk 2 gelas sanger, hahaha. Selepas makan dan ngopi sanger, saya melanjutkan perjalanan ke Lokngha. Sepanjang jalan menuju pabrik, perkataan teman saya terbukti. Kedai kopi ada di sepanjang jalan, jaraknya dekat-dekat. Bahkan banyak juga yang bersebelahan.Wow!


Sanger in the making


Sanger
Waktu tempuh antara satu tempat ke tempat lain di Aceh tidaklah memakan waktu lama. Ngga ada acara macet, entah apa cuma kebetulan saat saya datang tapi cuaca di Aceh sangat bersahabat. Tidak terasa panas ataupun lembab berlebihan. Rasanya nyaman dan suasananya juga bikin betah.Menuju Lokngha, Pak Helmi membawa saya dan tim melalui jalan bukit. Area sekitar masih hutan. Kemudian saya melewati satu desa yang sama sekali ngga terkena tsunami, padahal jarak dari desa itu ke laut hanya kurang dari 3 km. Sayangnya saya lupa nama desanya. Menurut cerita Pak Helmi, gelombang tsunami seperti membelah di bukit dan melewati desa tersebut. Subhanallah. Saya hanya bisa bertakbir dalam hati, kuasa Allah memang tiada yang tau.


Jalan yang bebas macet dan suasana yang menyenangkan
Selang 30 menit, sampailah saya di Lokngha. Daaan lokasi pabrik memang sangat dekat dengan pantai, dari dalam pabrik saya bisa mendengar debur ombak, sangat syahdu. Tapi siapa sangka ketika hari tsunami terjadi ada 280 orang pegawai yang meninggal maupun hilang, belum lagi anggota keluarga mereka. Pagi itu baru saja pergantian shift, jadi banyak karyawan yang baru masuk dan bersiap pulang. Perumahan karyawan juga ada dekat pabrik, semua tersapu gelombang. Seorang teman bercerita bahwa salah satu anaknya terlepas dari pelukannya dan tidak ditemukan. Setelah ia memberitahu kisahnya, saya langsung berhenti bertanya soal pengalaman ia menghadapi tsunami. Saya rasa sudah cukup luka dan kesedihan yang ia rasakan, huhuhu.  


Di dalam pabrik
Perjalanan dinas kali ini masih seputar bahan bangunan dan kawan-kawan. Jangan berharap saya bisa jalan-jalan ke mana-mana yak, karena jadwalnya hanya seputar proyek dan toko bangunan, hahaha. Tapi mendengar cerita dari pemilik toko, tukang dan customer itu seperti mendapat pencerahan baru. Karena pengalaman mereka menghadapi bencana dan kehidupan mereka yang religius, mereka jadi manusia yang sangat berserah akan ketentuan Sang Rab. Bahwa tidak ada kata selamanya, bahwa kehidupan itu fana dan tidak lama. Yang memiliki hidup mereka adalah Allah swt,Sang Ilahi. Yang mereka bisa lakukan adalah melakukan yang terbaik ketika di dunia, memberikan perlindungan terbaik bagi keluarga, dan beribadah sebaik-baiknya sehingga ketika Sang Khalik berkehendak, mereka sudah mempunyai bekal amal sholeh bersamanya. Saya nulis ini aja jadi mau nangis, huhuhu.

Mie dan Masakan Aceh si Pemanja Lidah

Rasanya tak lengkap jika ke Aceh tapi ngga makan mie Aceh yaaaa. Selain mie Aceh, coba sebut nama makanan khas Aceh yang teman-teman tau? Rujak Aceh, ayam tangkap, ikan kemamah dan sate matang. Sayangnya saya ngga sempat makan rujak aceh yang terkenal dan sate matang, huhuhu. Tapi saya sempat merasakan makan ikan bakar khas Aceh di tepi Pantai Lampuuk, ayam tangkap dan ikan kemamah (ikan kayu).


Pantai Lampuuk
Kalo kamu travelling ke Lokngha, kamu bisa mampir ke Pantai Lampuuk di mana akan banyaaaak warung makan ikan bakar bertebaran. Karena saya ke sana hari kerja, jadi sepi dan pantai seperti milik kami sendiri. Beruntunglah saya karena Pak Helmi, sopir yang mengantar kami adalah seorang nelayan. Jadi ia paham betul bagaimana memilih ikan yang masih segar. Ikan yang dipilih adalah ikan kerapu merah dan ikan kuwe. Sayangnya saat itu pengolahan ikannya memakan waktu lama, sekitar 1,5 jam. Kalau saja saat itu agendanya bukan bekerja, saya pasti sudah main di pantai, hahaha. Karena lama sekali menunggu dan kami sudah sangat lapar, jadilah ngga inget lagi buat foto makanannya, hahaha. Tapi dari 9 ikan yang dimasak menjadi ikan bakar dan ikan kuah bumbu Aceh, semuanya terasa manis tanda ikan itu masih segar. Juara rasanya, mantap!

Baca juga : Palembang Tak Cuma Mpek-Mpek





Ikan yang segaaar, dagingnya pun manis




Nah cuma sempat fotoin ini, hahahaha
Bagaimana dengan Mie Aceh? Mie Aceh yang saya jajal adalah di RM Mie Razali. Saya pilih mie Aceh seafood, teman saya memilih nasi goreng dan mie Aceh daging. Dengan kuah kental dan berbumbu, saya suka mie Aceh. Jika ngga suka mie berkuah, bisa memilih mie Aceh yang nyemek-nyemek, jadi kuahnya sedikit tapi mie-nya sedikit basah gitu lho, hahaha. Teman makannya adalah acar bawang dan ketimun. Menurut teman saya masih ada yang mie Aceh-nya lebih mantap daripada Mie Razali ini yaitu mie Aceh Ayah dan mie kepiting tak bernama di Lampuuk. Tapi yaah namanya sambilan ya kulinernya, jadi belum sempat deh makan mie Aceh Ayah dan mie kepiting yang endeus ituuu.. Next time, next time.









Di meja disediakan berbagai macam lauk yang sudah digoreng dan ditusuk seperti sate. Ada udang, cumi-cumi, burung puyuh, daging dan ayam. Lengkap dan sedap. Nasi gorengnya juga enak dengan rasa bumbu khas kebuli. Kami juga pesan martabk dan yang ternyata menurut kami seperti telor dadar biasa diisi berbagai macam topping, hahaha. Lalu ada minuman seperti es teler di Jakarta, isinya kelapa muda dan alpukat dengan rasanya yang manis. Percayalah saya lama-lama di Aceh pasti gendats karena makanannya enak-enak, hahaha.

Baca juga : Menikmati Semarang Dalam Semalam






Martabak yang menurut saya seperti telor dadar, hihihi

Selain Mie Razali, saya makan di Warung Nasi Lem Bakrie di Jl. P. Nyak Makam, Lamteh. Warung makannya sederhana saja, menyediakan beragaman masakan khas Aceh. Ada sate kambing, semacam gule kambing, kambing bakar, dan ayam goreng khas Aceh dan ayam tangkap. Rasanya lagi-lagi ya sedap bingits, hahaha. Saya sampai nambah nasinya karena sayang lauknya masih banyak, hahaha. Saya bener-bener jatuh cinta sama masakan Aceh. Buat saya masakan Aceh itu lebih variatif. Ngga melulu daging, tapi ada juga ikan tawar dan laut. Ngga melulu kuah santan, tapi ada juga yang berkuah segar tanpa santan. Pokoknya ngga akan bosanlah.




















Di hotel saya mencoba ikan kemamah atau ikan kayu yang dimasak seperti bumbu rendang. Ikan kemamah ini adalah ikan tuna yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga daging ikan menjadi sekeras batu. Kemudian sebelum dimasak, ikan kemamah akan direndam kembali selama 1-2 jam lalu disuir-suir. Ada juga yang dijual sudah siap rendam dan masak tanpa perlu disuwir-suwir lagi. Kamu harus makan ini kalo ke Aceh ya, karena enak banget. Semua makanan Aceh saya bilang sedaaap, hahaha.


Nasi kuning dan ikan kemamah

Buah Tangan Khas Aceh

Saya memang ngga berniat beli oleh apa-apa di Aceh karena selain saya hanya bawa tas kecil juga demi irit. Yang saya niatkan hanya beli kopi Aceh karena saya, suami, mamih, mama papa dan anggota keluarga besar memang suka ngopi. Lagi-lagi mendapat sopir seperti Pak Helmi itu semacam berkah. Pak Helmi membawa kami ke pasar apa namanya saya lupa, tapi di sana ada toko kopi bernama UD SYR. Alamatnya di Jl Khairil Anwar No 60A Peunayong. Tokonya kecil, tapi bapak penjualnya sangat ramah. Ia mengizinkan saya dan tim mencoba semua jenis kopi yang ada di tokonya. Di tokonya disediakan mesin kopi dan memang bagi yang ingin mencicip akan diberikan 1 sloki. Yah kurang lebih ukurannya seperti gelas minum air zam-zam itu lho.

Baca juga : Menginap di Kawasan Geylang, Singapore













Ternyata Bapak Syr mendapat pasokan biji kopi dari kebunnya sendiri. Ada beragam jenis kopi yang ia jual. Dari mulai kopi luwak, kopi king gayo, kopi organik dan masih banyak variasi kopi lain dari yang paling berat sampai paling ringan. Teman saya ada yang ngga bisa minum kopi, biasanya langsung berdebar atau sebah. Kemarin itu Pak Syr merekomendasikan satu jenis kopi yang light atau ringan, cocok bagi yang lambungnya tidak tahan terhadap kopi. Dan setelah minum kopi jenis itu, teman saya memang ngga merasakan sebah ataupun berdebar-debar. Langsung deh adegan berikutnya kami memborong berbagai jenis kopi di toko UD SYR, hahaha. Ssst, harganya juga jauh lebih murah daripada kamu beli toko khusus oleh-oleh lho. Di UD SYR kamu bisa icip-icip pula. Fresh kopinya karena baru digiling. Mantaaap!






Di daerah Jalan Khairil Anwar itu juga terdapat banyak toko oleh-oleh. Saya mengikuti saja toko yang paling ramai dan terkenal hasil rekomendasi teman. Dan yang paling menggoda sih tas dengan bordiran khas Aceh ya. Mana harganya murah-murah. Pingin borong aja sih kalo nurutin nafsu, hahaha. Tapi bawanya rempong kakaaak, akhirnya saya hanya membeli 1 tas untuk diri sendiri seharga Rp 120.000 saja. Selain tas dengan bordiran Aceh, kopi, kita juga bisa membeli ikan kemamah atau biasa disebut juga ikan kayu yang sudah dikemas rapi. Versi yang dikemas untuk oleh-oleh adalah yang sudah diserut seperti serpihan. Tapi saya ngga beli karena mendengar proses masaknya, saya merasa akan rempong sih, hahaha.  


Itu tas yang saya beli di Aceh, kece kan?! hihihi

Oiya tips dari saya nih. Kalo memang nanti kamu ke Aceh dan sopir atau guide kamu asli Aceh, coba tanyakan apakah ia bersedia untuk membuatkan bumbu inti mie Aceh. Pak Helmi berbaik hati meminta istrinya membuatkan bumbu inti mie Aceh untuk kami bawa pulang. Saya membawa 1/2 kg dan awet disimpan di freezer. Jadi, tinggal ambil satu sendok makan, tambahkan bawang merah dan putih, sawi, kol, daung bawang, seledri, cabe, lada bubuk, garam, gula, udang, cumi, daging atau lauk lainnya. Asli seriusan enak dan saya berasa kayak koki jagoan, hahahahaha. 


Mie Aceh buatan saya dengan bumbu inti buatan istri Pak Helmi

I left a piece of my heart in Aceh...


Apakah saya akan kembali ke Aceh? Inshaa Allah, karena selain saya jatuh cinta sama Aceh pekerjaan saya juga mengharuskan saya bolak-balik Aceh. Sesampainya di rumah saya langsung mengajak suami liburan ke sana bersama ucul. Semoga bisa kesampaian di tahun ini yaaaa. Kalo kamu apa yang bikin penasaran soal Aceh? Atau pernah ke Aceh juga dan ada rekomendasi tempat atau kuliner yang harus saya singgahi? Cerita di kolom komentar yaaa!
Love you life. :D

Wassalamu'alaikum wr wb.   

15 comments:

  1. Kak, gie diajak atuh liburannya hahaha....ngeces sama semua makanannya, bahkan pengen cobain kka bakar dan ikan kamamah (tau kan gie ga suka yg amis2 hahaha).

    Kopi....duh gie suka banget tp skrg udah super ngurangin. Klo pun mau kopi item aja hahaha, sanger kayaknya enak di Jakarta ada kak ? Yuklah kita cobain klo ada di Jekardah.

    ReplyDelete
  2. Ini lengkap banget ceritanya jadi merasa ada di proyeknya ekhh... setiap oerjalanan memang ada secuil batin yang merefresh jiwa ya mak..

    ReplyDelete
  3. lengkap banget cerita dinasnya, aku jg penasaran pgn ke Aceh smg menang lomba dah yg gratisin kesono wkwkk. suamiku konsumsi kopi aceh mb ucul tiap bln belin online 😭 gayalah dia cmn maunminum kopi aceh doank pdhl bln prnh ke Aceh jg hahaha.
    dan untuk kulinernya aku jg dlu sering bgt makan mie aceh kuah kentalnya itu maknyoss

    ReplyDelete
  4. NTB khususnya Lombok juga dijuluki serambi mekkah mba. Sesekali main ke Lombok ya :D

    ReplyDelete
  5. waaaah makanannya bikin ngiler mba... aku belom pernah ke Aceh, tapi makanan khas Aceh termasuk kesukaan aku..hehehe...

    ReplyDelete
  6. Aceh memang indah banget. Selain alam budayanya yang unik dan makanannya yang enak-enak. Aku diceritakan, Ikan keumamah itu konon lahir semasa perjuangan Aceh melawan Belanda. Karena cara memasaknya dan bikin awet gampang dibawa ke hutan untuk bekal para pejuang

    ReplyDelete
  7. Ngiler banget liat kuah2 makanannya. Haha. Buset masak ikannya 1,5 jam, haha pasti udah laper berat ya Mba :D

    ReplyDelete
  8. Duhhh bacanya sambil nahan ncesss.. hahaha.. enak2 smua ya tampaknyaaa

    ReplyDelete
  9. Duh kuliner aceh menggiurkan gitu yaaaaaa <3 Abis baca ini langsung jadi pengen ke aceh jugaaa.. Makasi sharingnya ya mak Lisnaaaaaaa

    ReplyDelete
  10. Mie aceh ... aku suka yg nyemek2 ... mntap

    ReplyDelete
  11. sayang bulan lalu aku gak ikut ke aceh, gara2 aku sibuk acara di komunitas, duh jadi mupeng banget

    ReplyDelete
  12. Dan baca artikel penuh dengan makanan ini pas bulan Ramadan, selamat deeeh. HIhii Aceh kaya akan peristiwa ya, terakhir adalah benca alam Tsunami. Bisa dibanyangkan pagi yang mencekam untuk para anggota keluarga pabrik di dekat pantai itu ya Mbak.

    Ikan-ikannya segar-segar bangeeeet, masaknya juga kaya bumbu ya Mbak

    ReplyDelete
  13. Sudah ke Aceh ya mbak? Gimana..,? Serukan! Ya., begitulah Aceh sekarang, telah jau berbeda dari Aceh 10 tahun lalu. Semoga bisa balik lagi ke Aceh ya! Salam dari Aceh :)

    ReplyDelete
  14. gimana gitu baca postingan ini tengah hari pas puasa, :D jadi gambar2 makanannya dicepetin. :D
    ------- :D

    ReplyDelete
  15. Akuuu juga siap jatuh cintaaa sama aceh mbaak. ..hehee asik banget perjalanan dinasnya sambil refreshing mengenal budaya terutama budaya kuliner nyaaa yak. . Hehee mie aceeh emang mantaaap mbaaak. Pasti gak bsa kalau cuman semangkok. Penasaran mau cobaain sanger mbaaak. .kayak susu coklat ya rasanya tp aroma kopi? Hehehe

    ReplyDelete